Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Isu Bandara di Bali Utara Mencuat Lagi, Begini Komentar Wayan Koster

Antara • Kamis, 30 Mei 2024 | 00:06 WIB

 

Mantan Gubernur Bali, Wayan Koster.
Mantan Gubernur Bali, Wayan Koster.

RadarBuleleng.id - Isu pembangunan bandara baru di Bali Utara kembali mencuat. Apalagi Paiketan Puri-Puri Sejebag Bali telah memberi dukungan.

Paiketan puri bahkan membawa pusaka-pusaka mereka di Pura Puseh Agung Penegil Dharma di Desa Kubutambahan, Buleleng.

Pusaka itu mesolah di pura. Sejumlah tokoh puri mengklaim aksi itu bentuk dari groundbreaking bandara secara niskala.

bandBaca Juga: Bawa Pusaka ke Kubutambahan, Tokoh Puri Sebut Groundbreaking Niskala Proyek Bandara

Mantan Gubernur Bali, Wayan Koster pun ikut angkat bicara terkait dengan mencuatnya kembali isu pembangunan bandara baru di Bali.

Menurut Koster, pembangunan bandara tidak bisa dilakukan dengan serta merta. Melainkan harus ada infrastruktur yang menghubungkan bandara tersebut dengan pusat keramaian.

Dalam hal situasi di Bali, harus ada infrastruktur yang menghubungkan bandara di Buleleng dengan pusat keramaian yang ada di Bali Selatan.

Kawasan Bali Selatan yang dimaksud ialah Denpasar, Kuta, Canggu, Nusa Dua, hingga Ubud.

“Sebelum kita bicara bandara, terlebih dahulu kita harus membahas akses infrastrukturnya, penghubung antara kabupaten/kota yang ada di Bali ke lokasi bandara di Buleleng,” kata Koster sebagaimana dikutip dari ANTARA.

Baca Juga: Proyek Bandara Buleleng Ditolak Megawati, Direktur BIBU Panji Sakti Yakin Pasti Jalan

Menurut Koster, sebelum membangun bandara semestinya yang harus dipikirkan adalah membangun akses menuju bandara.

Akses itu juga harus dikaji lebih lanjut. Apakah lebih tepat menggunakan jalan tol, atau menggunakan kereta api.

“Nah itu dibutuhkan studi dulu infrastruktur penghubungnya, ini memerlukan waktu studinya saya kira untuk akses saja paling tidak setahun,” ujarnya.

Kalau toh akses menuju bandara sudah diputuskan, masih ada kendala lain. Yakni pembebasan lahan.

Koster menyebut, akses dari Bali Selatan menuju Buleleng melewati perbukitan curam berlembah. 

“Pembebasan lahannya itu paling cepat 2 tahun. Setelah lahannya dibebaskan, mudah-mudahan lancar, baru pembangunan infrastrukturnya. Jalan tol atau kereta apinya. Itu paling cepat 2 tahun juga,” kata Koster

Koster memprediksi untuk pembangunan infrastruktur menuju bandara Bali Utara saja memakan waktu setidaknya 5-6 tahun.

Hal itu harus dilakukan, agar bandara berfungsi optimal. Agar tidak seperti Bandara Kertajati di Jawa Barat yang mati suri.

“Jadi jangan sampai investasi yang sudah besar, tidak bisa berfungsi optimal karena akses pendukungnya belum siap, ujarnya.

Lebih lanjut Koster mengatakan, apabila wacana tersebut betul-betul terwujud ada dampak ekonomi yang dirasakan masyarakat lokal sekitar. Bukan justru lahan tergerus dan hanya investor yang diuntungkan.

“Betul-betul dipastikan harus diproteksi kebudayaan jangan sampai rusak seperti di Hawaii, kemudian memastikan bahwa keberadaan bandara itu akan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat, tidak menggusur warga lokal,” demikian Koster. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

Editor : Eka Prasetya
#bali #koster #wayan koster #bandara #bali utara #buleleng