Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Inspiratif! Sekaa Truna di Bali Buat Tedung dan Canang Rebong Dari Bahan Organik

Juliadi Radar Bali • Kamis, 20 Juni 2024 | 00:14 WIB

 

KREATIF: Pemuda menunjukkan simbar menjangan yang akan diolah menjadi canang rebong.
KREATIF: Pemuda menunjukkan simbar menjangan yang akan diolah menjadi canang rebong.

RadarBuleleng.id - Kesadaran menjaga alam dan isinya di kalangan pemuda kian tumbuh. Pemuda kini berlomba-lomba menggunakan bahan organik dalam berbagai kegiatan.

Seperti yang dilakukan oleh Sekaa Truna Darma Cita Banjar Seributi, Desa Cau Belayu, Tabanan.

Mereka tampil memukau pada saat parade baleganjur pada ajang Marga Festival 2024.

Penampilan mereka menarik perhatian, karena tedung serta canang rebong yang digunakan saat pentas berasal dari bahan organik.

Tedung yang dibuat menggunakan daun nangka kering. Sementara canang rebong menggunakan daun simbar menjangan. 

Para pemuda membuat benda-benda tersebut, untuk menyelaraskan penampilan mereka dengan tema Marga Festival 2024, yakni pemulihan alam.

Kendati penampilan mereka menjadi lebih rumit, namun mereka sukses menghibur pengunjung dan penonton. 

Perbekel Desa Cau Belayu, I Putu Eka Jayantara mengatakan, konsep alami dibuat karena sesuai dengan tema yakni pemulihan alam. 

Untuk bisa menyatu dengan konsep, akhirnya para pemuda berinisiatif membuat tedung dan canang rebong dibuat dengan konsep daun. 

"Tedung dan canang rebong kami buat masing-masing dua buah," ujarnya kemarin (18/6/2024). 

Jayantara menyebut proses pembuatan tedung sangat menantang. Awalnya mereka menggunakan daun nangka yang masih berwarna hijau.

Ternyata setelah dipasang, kreasi itu gagal. Karena daun menjadi kering dan cepat rusak. Akhirnya mereka menggunakan daun nangka yang sudah menguning. 

"Pembuatannya tidak mudah memang. Sebelum don nangka ini kami pasang, bagian lingkar tedung kami buat menggunakan kain biasa, barulah kami tempel dengan don nangka yang sudah dibentuk rapi," jelasnya. 

Jayantara mengaku untuk sebuah tedung, perlu ratusan lembar daun nangka. Mereka juga harus sabar menunggu daun nangka rontok.

Sementara dalam pembuatan canang rebong, lazimnya menggunakan janur kelapa. Tapi kali ini mereka menggunakan daun simbar menjangan. 

Meskipun dalam pembuatan memerlukan tantangan, canang rebong dari simbar ini mampu menghipnotis penonton. 

"Kami juga mewarnai canang rebong ini dengan nuansa hijau," akunya. 

Jayantara menambahkan penampilan dalam lomba baleganjur ini mereka kemas dengan sederhana. Artinya memanfaatkan sesuai apa yang ada di desa. 

Apalagi dalam tema parade baleganjur itu dibuat dengan konsep pemulihan alam. Dalam penggarapan ini anak-anak membuat selama dua minggu. 

"Jadi yang dibuat sesuai kreasi anak-anak," demikian Jayantara. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

Editor : Eka Prasetya
#bali #sekaa truna #organik #baleganjur #tabanan #canang