SINGARAJA-Puluhan yowana (muda-mudi/remaja) di Desa Adat Buleleng diberikan penyuluhan tentang seksual.
Ini diberikan untuk memberikan pemahaman, mengingat Kabupaten Buleleng belakangan ini diramaikan dengan kasus kejahatan seksual terhadap anak.
Penyuluhan ini diberikan dalam Pasraman Desa Adat Buleleng tahun 2024 di Sekretariat Desa Adat Buleleng pada Senin (1/7) pagi.
Desa Adat Buleleng menghadirkan Made Riko Wibawa yang juga pemerhati kekerasan anak, sebagai narasumber.
Menurut Riko, penyuluhan ini penting diberikan kepada para remaja, mengingat kondisi dan situasi saat ini di Buleleng yang cukup menghebohkan.
Utamanya terkait dengan kekerasan seksual terhadap perempuan dan anak, juga narkotika.
Sehingga dengan adanya pemberian materi ini, yowana di Desa Adat Buleleng, kata Riko, minimal memahami mengenai seksual juga ancaman kekerasan.
Setidaknya, mereka dapat menghindari akibat yang tidak diinginkan. Seperti mencegah kehamilan yang tidak diinginkan, hingga tertular penyakit kelamin salah satunya HIV.
Selain dengan pengenalan dini tentang alat seksual yang dimilikinya, serta mengetahui fungsi juga cara perawatan.
“Kami ingatkan bagian tubuh yang tidak boleh dipegang oleh orang lain. Itu kan upaya dalam melindungi dirinya yang dapat menghindari kasus seksual,” ujarnya kepada radarbuleleng.id.
Sementara itu, Kelian Desa Adat Buleleng, Nyoman Sutrisna menjelaskan Pasraman Desa Adat Buleleng ini digelar untuk menekankan budi pekerti kepada para yowana. Salah satunya tentang pentingnya pelajaran seksual.
Untuk tahun 2024, pasraman ini diikuti oleh yowana dari pengemong Pura Segara, yang berasal dari Banjar Adat Kampung Baru, Kampung Anyar, Banjar Jawa, Banjar Bali, dan Kaliuntu.
Kegiatan yang dilakukan di waktu libur sekolah ini, diharapkan ilmu yang didapat dari pasraman Desa Adat Buleleng dapat ditularkan oleh para yowana ke lingkungan sekitar dan sekolahnya.
“Ini juga untuk menanggulangi kekerasan seksual yang ramai terjadi di Kabupaten Buleleng. Sehingga mereka bisa mencegahnya. Juga diketok tularkan ke yang lainnya,” ujar Sutrina. ***
Editor : Donny Tabelak