SEMARAPURA, radarbuleleng.id- Polres Klungkung hingga saat ini diminta agar gencar melakukan patroli di kawasan Pusat Kebudayaan Bali (PKB), Kabupaten Klungkung. Sebab aktivitas membahayakan seperti trek-trekan liar masih terjadi.
Guru SMP Negeri 1 Banjarangkan, Putu Ayu Mayuni dalam kegiatan Jumat Curhat, Curhat Quickwins Presisi Polres Klungkung yang berlangsung di SMPN 1 Banjarangkan, Jumat (2/8) mengungkapkan, dia kerap mendengar para siswanya berkumpul di jembatan merah yang berada di PKB Kabupaten Klungkung untuk menggelar trek-trekan motor.
Terkait hal itu, dia meminta kepada Polres Klungkung untuk lebih meningkatkan patroli di jembatan merah.
”Saya sering mendengar dari siswa, mereka berkumpul di jembatan merah untuk melakukan trek-trekan motor,” ungkapnya.
Kapolres Klungkung AKBP Alfons W P Letsoin mengungkapkan, pelaksanaan patroli baik dari Polsek Dawan, Polsek Klungkung serta Polres Klungkung sudah rutin dilaksanakan.
Agar tindakan antisipasi lebih maksimal, dia mengharapkan kerja sama dari pihak sekolah untuk memberikan pemahaman kepada peserta didik mengenai bahayanya melakukan kegiatan trek-trekan.
”Kami meminta juga peran serta sekolah memberikan pemahaman kepada para peserta didik demi keselamatan diri sendiri maupun orang lain,” jelasnya.
Sementara itu, guru lainnya, Nengah Ramin mengungkapkan banyak siswanya tidak jauh dari sekolah.
Sehingga ada siswa yang notabene merupakan anak di bawah umur berangkat sekolah dengan mengendarai sepeda motor.
”Mungkin bisa disediakan kendaraan umum,” harapnya kepada Polres Klungkung.
Untuk diketahui, Kadis Perhubungan Klungkung, I Gusti Gede Gunarta mengungkapkan, layanan Angkutan siswa baru bisa dinikmati siswa di lima SMP, Kecamatan Klungkung, yakni SMP Negeri 1 Semarapura, SMPN 2 Semarapura, SMPN 3, Semarapura, SMPN 4 Semarapura dan MTS Hasanudin.
Meski program tersebut telah berjalan sejak tahun 2017, menurutnya layanan untuk melindungi siswa SMP dari kecelakaan lalu lintas akibat nekat mengendarai kendaraan sendiri ke sekolah itu belum bisa diperluas ke kecamatan lain di luar Klungkung.
Seperti Kecamatan Dawan, Banjarangkan, dan Nusa Penida lantaran terkendala anggaran.
Menurutnya, program Angsis sangat berarti bagi siswa, orang tua siswa dan para sopir angkutan.
Dengan adanya program ini, para siswa SMP yang rumahnya jauh tidak perlu menggunakan kendaraan pribadi yang justru membahayakan mereka yang tergolong anak di bawah umur.
Demikian orang tua siswa tidak perlu mengantar jemput anaknya. Begitu juga dengan para sopir angkutan yang turut serta dalam program ini memiliki penghasilan tetap.
”Kami memiliki keinginan untuk memperluas layanan ini. Hanya saja karena keterbatasan anggaran, sehingga belum bisa,” tandasnya. ***
Editor : Donny Tabelak