RadarBuleleng.id - Pembangunan proyek kereta bawah tanah alias subway di Bali Selatan akhirnya dimulai. Proyek itu ditargetkan bisa mengurai kemacetan di Bali.
Pembangunan itu ditandai dengan proses upacara ngeruak di Sentral Parkir Kuta. Titik tersebut akan menjadi stasiun utama kereta bawah tanah.
Tak main-main, pembangunan subway itu diperkirakan menghabiskan dana hingga USD 20 miliar atau setara dengan Rp 308,2 triliun. Pembangunan itu murni menggunakan dana swasta.
Proses pembangunan untuk koridor 1, yakni rute Bandara-Kuta dan Bandara-Jimbaran-Unud, ditargetkan tuntas pada pertengahan 2028.
Pj. Gubernur Bali, Sang Made Mahendra Jaya mengaku gelisah dengan rencana pembangunan tersebut.
Alasannya, proyek itu cukup prestisius. Tapi tidak mendapat dana dari APBN maupun APBD. Melainkan murni investasi dari pihak swasta.
"Sekarang saya masih deg-degan semoga lancar semua. Investasi murni, bagaimana kami tidak deg-degan. Ini harus kita kawal bersama agar berjalan sesuai," kata Mahendra Jaya, kemarin (5/9/2024).
Setelah proyek itu tuntas, pemerintah berharap agar seluruh masyarakat Bali bisa mengakses moda transportasi itu.
Rencananya tarif hanya diberlakukan bagi WNI dengan status non KTP Bali, serta berlaku bagi wisatawan.
Tarif yang berlaku bagi WNA diperkirakan mencapai USD 40 atau sekitar Rp 600.000 yang berlaku selama seminggu.
“Masyarakat lokal, mereka subsidi. Saya harapkan gratis nanti. Berdasarkan KTP Bali. Jadi bersyukurlah KTP Bali bisa menikmati ini," ujarnya.
Sementara itu Direktur PT Sarana Bali Dwipa Jaya (SBDJ), Ari Askhara menjelaskan bahwa subway akan dikhususkan bagi wisatawan. Moda transportasi itu akan diberi Bali Urban Subway.
Ari menyebut akan ada empat koridor yang dibangun. Koridor pertama yakni Bandara I Gusti Ngurah Rai - Kuta Central Parkir - Seminyak - Berawa -Cemagi, sepanjang 16 km.
Koridor kedua yakni rute Bandara I Gusti Ngurah Rai - Jimbaran - Universitas Udayana - Nusa Dua dengan panjang 13.5 km.
Koridor ketiga yakni jalur Kuta Central Parkir - Sesetan - Renon - Sanur yang masih dalam tahap studi.
Serta koridor keempat, yakni rute Renon - Sukawati - Ubud yang juga masih dalam proses studi.
Ari meyakini koridor pertama akan tuntas pada awal tahun 2028 mendatang. Sedangkan koridor kedua baru bisa tuntas pada akhir 2028.
"Kenapa beda? Karena Kuta, Seminyak, Canggu, Cemagi, kondisi tanah batu semua. Sehingga cuma 3 meter per hari, sangat lambat. Kalau di fase dua, Nusa Dua, arena kapur itu bisa 30 meter per hari bisa lebih cepat," ucapnya.
Mantan Dirut Garuda Indonesia menjamin bahwa subway akan lebih cepat dan efisien, dibandingkan dengan kendaraan mobil.
Ia menyebut waktu tempuh dari Bandara Ngurah Rai menuju Cemagi diperkirakan memakan waktu hanya 10 menit hingga 15 menit. Biayanya pun murah, hanya Rp 600 ribu untuk penggunaan selama seminggu.
“Bayangkan sekarang dari bandara ke Cemagi pakai Grab Rp 350 ribu waktu tempuh 2,5 jam," ungkap Ari.
Khusus masyarakat lokal, Ari menyatakan bahwa dalam kajian awal pihaknya bisa menggratiskan tiket bagi pemegang KTP Bali.
"Kalau saya mau gratis (lokal) asalkan KTP Bali. Kami usahakan gratis," tegasnya. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya