Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Berawal dari Rumah Kakek di Desa Anturan Buleleng, Pria Ini Berhasil Koleksi Uang Kuno Indonesia dan Ratusan Negara di Dunia

Marsellus Nabunome Pampur • Minggu, 29 September 2024 | 02:05 WIB
Ketut Dharmayasa memamerkan uang kuno koleksinya saat ditemui di kediamannya di Gatsu Timur, Denpasar.
Ketut Dharmayasa memamerkan uang kuno koleksinya saat ditemui di kediamannya di Gatsu Timur, Denpasar.

DENPASAR, radarbuleleng.id-Kegemaran mengoleksi uang kuno dilakoni oleh Ketut Dharmayasa. Pria berusia 53 tahun ini sudah mulai mengoleksi uang kuno sejak tahun 2014 silam.

Hingga kini dia sudah memiliki ribuan uang kuno dalam pecahan kertas maupun koin. 

Dhramayasa memiliki koleksi uang dari zaman penjajahan Belanda, Jepang hingga yang dikeluarkan setelah era kemerdekaan.

Menariknya lagi, tak hanya milik Indonesia, dia juga mengoleksi uang kuno dari ratusan negara dunia lainnya.

Ditemui di kediamannya di Denpasar, Kamis (26/9) lalu, dia menceritakan bahwa hobinya ini bermula saat tahun 2014 silam.

Saat itu dia tak sengaja menemukan uang simpanan di rumah sang kakek di Desa Anturan, Buleleng.

Saat itu, dia menemukan beberapa gepok yang rupiah keluaran tahun 1958 dalam pecahan 5 rupiah seri bunga, 25 rupiah seri pekerja dan 50 rupiah seri pekerja. 

Setelahnya, dia mulai mencari informasi terkait historis uang tersebut.

Seperti tak sengaja tercebur, Dharmayasa malah jadi ketagihan untuk mencari uang-uang kuno lainnya.

Dia mulai membuka internet, mencari informasi dan akhirnya menemukan beberapa komunitas kolektor uang kuno di media sosial.

”Saya mencari dari tahun 2014 selama kurang lebih setahun untuk melengkapi koleksi," katanya saat ditemui di kediamannya.

Koleksi uang kuno paling tua yang dimilikya saat ini adalah uang keluaran tahun 1872 hingga 1949.

Melalui komunitas Numismatik yang khusus mengoleksi uang kuno, dia mengumpulkan banyak uang kuno lain. 

Bahkan tak hanya pecahan lembar dan koin, dia bahkan kini mengoleksi uang misprint dan miscut, atau salah print dan salah cetak saat porses pembuatan oleh bank Indonesia.

Entah bagaimana peredaran awal dari mesin cetak uang belum jadi tersebut, namun dia mengaku koleksi jenis itu dia dapatkan teman-temannya di komunitas Numismatik tersebut. 

”Saya cari di internet di komunitas Numismatik yang mengkoleksi uang kuno. Biasanya anggotanya melelang di media sosial," ujarnya.

Menariknya lagi, Dharmayasa bahkan mempunyai uang lembar pecahan dolar Amerika yang belum dipotong atau belum digunting menjadi pecahan uang lembar satuan yang utuh.

Selain itu, pria yang tinggal di jalan Gatsu Timur Denpasar ini juga memiliki pecahan uang Rp 50 ribu dan Rp 100 ribu yang telah dihancurkan oleh bank dan kini dipadatkan menjadi gumpalan.

Sekilas saat dipegang, gumpalan uang tersebut memiliki tekstur yang keras dan berat.

Saat ditanya berapa total nominal jika seluruh uang kuno itu dijual, dia mengaku uang kuno koleksinya itu tak bisa dinilai dengan harga. Yang terpenting baginya adalah kepuasan yang dirasakan saat memiliki koleksi tersebut.

”Awalnya misinya untuk melengkapi saja, terus ada kepuasan tersendiri karena berhasil mengumpulkan koleksi. Apalagi kalau kita tahu historis dari uang yang kita koleksi tersebut," ungkapnya.

Selain untuk dikoleksi, terkadang uang kuno miliknya juga dijual kepada para kolektor uang kuno lainnya. Tentu saja harga yang ditawarkan cukup mahal.

Dari ratusan ribu rupiah hingga ratusan juta rupiah, tergantung jenis dan tahun produksi.

Contohnya uang seri binatang. Dimana uang itu dulunya dikeluarkan oleh menteri keuangan Amir Sarifudin di tahun 1957 silam. Saat baru menjabat dia lalu mengeluarkan cetakan uang tersebut.

Setelah kurang lebih tiga bulan menjabat ia akhirnya berhenti menjadi Menteri Keuangan. Hal itu membuat uang yang diproduksi pada masa jabatannya menjadi langka.

”Misyalnya ada yang seri gajah juga ada, yang buaya, badak yang di harga sampai 60 juta. Seri monyet banyak, ada rusa juga. 

Yang paling mahal juga ada seri wayang.  uang Jepang juga ada," tandasnya.***

Editor : Donny Tabelak
#koleksi uang #desa anturan #kolektor uang kuno #uang kuno