radarbuleleng.jawapos.com- Sebanyak 5 ekor penyu barang bukti dari 29 ekor penyu dari pengungkapan kasus penyeludupan penyu oleh Polres Jembrana, mati. Diduga karena stress dan dehidrasi.
Sedangkan 19 ekor penyu dilepasliarkan dan 1 ekor dalam kondisi kritis masih dalam perawatan medis tim dokter hewan, akan dilepasliarkan bersamaan 3 ekor penyu lagi.
Barang bukti penyu setelah penangkapan Minggu (12/1) lalu, langsung dititipkan ke Kelompok Pelestari Penyu (KPP) Kurma Asih, Desa Perancak.
Seluruh penyu barang bukti ini mendapat pengawasan dari tim dokter dan Petugas Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bali, serta relawan dari KPP Kurma Asih.
Sebanyak 5 ekor penyu ditemukan sudah mati, Selasa (13/1) pagi. Diduga penyebabnya karena stress dan dehidrasi karena terlalu lama berada di darat.
”Lima penyu ini sudah dalam kondisi mati. Kemungkinan stres dan dehidrasi,” ujar Ahmad Januar, petugas dari BKSDA Jembrana, Selasa (13/1).
Setelah tim dokter hewan melakukan pemeriksaan, 5 ekor penyu betina langsung dikubur di pesisir Pantai Desa Perancak.
Ada tiga lubang yang digali dengan ke dalam sekitar 1,5 meter. Penyu yang mati, berusia paling muda 10 tahun dan paling tua 40 tahun.
Selian itu, masih ada satu ekor penyu jantan dalam kondisi kritis. Penyu kritis dibawa dokter dari Jaringan Satwa Indonesia (JSI) Banyuwedang, Buleleng, untuk mendapat perawatan intensif.
”Penyu yang mati semua betina. Sementara satu ekor penyu jantan masih kritis sudah ditangani tim medis,” terangnya.
Sedangkan penyu lain sebanyak 19 ekor, masih diobservasi di KPP Kurma Asih.
Dari observasi, dipastikan kondisi penyu sehat dan siap dilepasliarkan ke alam liar.
Menyisakan empat ekor penyu yang rencananya akan dilepasliarkan, Kamis (16/1).
”Penyu yang dilepasliarkan dipastikan sudah dalam kondisi sehat dan stabil untuk dilepasliarkan,” tegasnya.***
Editor : Donny Tabelak