Radarbuleleng.jawapos.com- Sebuah video warga berpakaian adat Bali yang memandikan bangkai ular sanca viral di media sosial.
Dalam video tersebut, tampak seperti ritual nyiramin atau memandikan jenazah manusia dalam adat Bali.
Peristiwa itu diketahui terjadi di Banjar Gelagah, Desa Kutampi, Kecamatan Nusa Penida, Minggu lalu (2/3).
Kelihan Banjar Adat Gelagah, I Wayan Duduk saat dikonfirmasi, Senin kemarin (3/2) membenarkan jika video viral tersebut berlokasi di wilayahnya.
Dijelaskannya, memandikan tubuh ular sanca disertai dengan sejumlah sarana bebantenan itu dilakukan karena adanya sejumlah peristiwa mistis yang terjadi menimpa warganya.
”Bahkan ada sekitar 15 orang warga kami kesurupan. Ini pertama kalinya ada warga kami yang kesurupan,” ungkapnya.
Dituturkannya, ular sanca itu mulanya dilihat warga muncul di sekitar pohon besar keramat di Banjar Adat Gelagah, Kamis (30/2) pagi.
Karena takut membahayakan warga sekitar, seorang warga kemudian ingin membunuh ular tersebut dengan cara memukul.
Tetapi berkali-kali dipukul, ular itu tidak mati dan tetap diam di posisi awal.
”Kebetulan lewat jero mangku penglingsir kami yang kebetulan mau ke ladang. Warga tersebut meminta jero mangku melihat ular tersebut karena tidak kunjung mati meski berkali-kali telah dipukul,” tuturnya.
Setelah melihat ular tersebut, jero mangku merasakan ular tersebut bukan ular sembarangan.
Oleh jero mangku, ular itu diminta untuk pergi. Hanya saja ular tersebut tidak bergerak dari posisinya.
”Jero mangku ini sempat mengusap kepala ular dan dijilat oleh ularnya,” katanya.
Kemudian jero mangku meminta kayu kepada warga yang kemudian dimantrai. Kayu tersebut kemudian dipukulkan ke kepala ular sebanyak satu kali. Seketika itu, ular tersebut mati.
Setelah itu, jero mangku berkata akan turun hujan deras di wilayah Banjar Adat Gelagah. Dan benar saja, hujan deras turun di wilayah tersebut.
”Jero mangku berpesan kepada warga tersebut (yang menemukan ular, Red) untuk mengubur ular tersebut,” terangnya.
Warga tersebut kemudian menarik bangkai ular untuk dikubur. Hanya saja tubuh warga tersebut tiba-tiba mengalami demam sehingga dibiarkan begitu saja ular tersebut hingga sore hari.
”Melihat ular tersebut belum dikubur hingga sore hari, jero mangku kemudian membuang ular tersebut ke luar wilayah Banjar Adat Gelagah sekitar 6 km bersama warga luar banjar kami,” jelas Duduk.
Jero mangku yang memiliki kemampuan melihat sosok gaib merasa didatangi oleh makhluk kasat mata yang meminta ular peliharaan makhluk itu dikembalikan ke tempat pertama kali ular itu ditemukan.
Menurutnya tempat tersebut memang terbilang angker dengan pohon besar dan batu berwarna keemasan yang dikeramatkan sejak dahulu.
”Orang yang diajak jero mangku membuang ular itu juga bermimpi tentang ular tersebut. Sehingga keesokan paginya, ular itu diambil oleh warga tersebut untuk dikubur dan diberikan canang dan uang,” bebernya.
Karena diminta untuk mengembalikan ular ke tempat semula, jero mangku kemudian meminta dia agar mengumpulkan warga untuk menyampaikan apa yang dialami jero mangku kepada warga.
Karena meyakini tempat tersebut tempat yang keramat, warga pun percaya dan meyakini ular tersebut merupakan penunggu tempat tersebut. Apalagi warga lainnya juga memimpikan hal serupa.
”Sehingga diambillah ular yang telah dibukur di luar banjar tersebut,” jelasnya.
Pada Minggu (2/3), ular tersebut kemudian dibawa ke lokasi pertama kali ditemukan. Dalam perjalanan menuju Banjar Adat Gelagah, diungkapkannya banyak warga yang kesurupan.
Setidaknya ada sekitar 15 orang warga kesurupan dan hal itu merupakan kali pertama terjadi di banjar adat tersebut.
”Sebelum dikubur, kami melakukan pembersihan (memandikan, Red) terhadap ular tersebut. Dan ada sejumlah sarana banten sebagai permohonan maaf kami,” tandasnya.***
Editor : Donny Tabelak