Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Penyelundupan Penyu di Bali Makin Marak Gara-Gara Tren Makanan Ekstrem

Muhammad Basir • Rabu, 19 Maret 2025 | 14:20 WIB

 

LEPAS LIAR: Proses lepas liar penyu yang diamankan dalam kasus penyelundupan penyu di Jembrana.
LEPAS LIAR: Proses lepas liar penyu yang diamankan dalam kasus penyelundupan penyu di Jembrana.

RadarBuleleng.id – Aksi penyelundupan penyu ke Bali, kembali terjadi. Kali ini penyelundupan penyu terjadi lewat Jembrana.

Sepanjang tahun ini, aksi penyelundupan penyu sudah tiga kali terjadi. Sebanyak dua kali terjadi lewat Jembrana, dan sekali lewat Buleleng.

Maraknya penyelundupan penyu ke Bali praktis mengundang tanda tanya. Mengapa penyelundupan penyu masih saja terjadi, meski sudah jelas jika penyu menjadi satwa yang dilindungi.

Rupanya, daging penyu masih banyak diminati. Daging penyu menjadi menu spesial di sejumlah rumah dan dijual secara sembunyi-sembunyi. 

Rumah makan ini beroperasi secara diam-diam dan hanya melayani pelanggan tertentu. Akibatnya, perdagangan ilegal penyu masih sulit diberantas sepenuhnya. 

Bahkan, dalam kasus terbaru pengungkapan penyelundupan enam ekor penyu, yang mana pria yang melakukan penyelundupan kini masih menjadi buronan.

Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bali, Ratna Hendratmoko menyebut, praktik penjualan daging penyu masih terjadi. 

Para pengusaha kuliner menjual daging penyu secara sembunyi-sembunyi. Bahkan ada tren untuk mencicipi daging penyu yang disebut sebagai kuliner ekstrem.

“Mereka tidak akan mencantumkan lawar penyu atau olahan lainnya secara terang-terangan di menu restoran,” ujarnya.

Menurutnya, lokasi rumah makan yang menjual daging penyu sudah teridentifikasi. Namun, pengawasan sulit dilakukan karena rumah makan itu hanya menjual daging penyu sewaktu-waktu.

“Tidak setiap hari mereka jual daging penyu. Itu juga tidak ada di menu. Sudah beberapa kali didatangi, memang tidak ditemukan daging penyu. Kami dan polisi sudah kerjasama mengawasi tempat-tempat itu,” ujarnya.

BKSDA Bali mengimbau masyarakat untuk tidak mengonsumsi daging penyu, mengingat banyak makanan lain yang lebih lezat dan tidak melanggar hukum.

“Masa harus makan yang seperti itu? Penyu adalah satwa dilindungi. Kami tidak sampai hati memakannya. Kami mengajak masyarakat Bali untuk menjauhi makanan yang berasal dari satwa yang dilindungi,” tegasnya.

Berdasarkan hasil investigasi, penyu-penyu yang diperdagangkan di Bali sebagian besar berasal dari Pulau Jawa. 

Permintaan yang masih tinggi di Bali menjadi salah satu faktor utama maraknya penyelundupan penyu untuk diambil dagingnya.

Selama ini, upaya penegakan hukum lebih banyak menangkap kurir dan pemasok, sementara pihak pemesan atau pembeli belum terungkap secara menyeluruh. 

Meski beberapa pemesan telah diidentifikasi, penjualan yang dilakukan secara tertutup menjadi kendala utama dalam proses pembuktian hukum.

Sementara itu, Polres Jembrana masih memburu satu terduga pelaku dalam kasus penyelundupan penyu terbaru yang melibatkan IAP, 45, warga Kelurahan Gilimanuk. 

Proses penyidikan terus berlangsung, dan polisi telah menerbitkan daftar pencarian orang (DPO) untuk segera menangkap pelaku.

“Kami berharap pelaku segera tertangkap,” ujar Kapolres Jembrana AKBP Endang Tri Purwanto.

Dalam pengungkapan kasus ini, ditemukan enam ekor penyu, dengan tiga di antaranya dibawa menggunakan sepeda motor oleh pelaku. 

Dua ekor lainnya ditemukan di pinggir pantai, sementara satu ekor sudah dalam kondisi terpotong-potong di rumah tersangka. 

Kasus ini terungkap pada Sabtu (15/3) oleh Satpolairud Polres Jembrana di wilayah Kelurahan Gilimanuk, Kecamatan Melaya. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

Editor : Eka Prasetya
#bali #satwa #bksda #penyelundupan #rumah makan #jembrana #kuliner #daging #buleleng #penyu