RadarBuleleng.id – Kreasi ogoh-ogoh di Bali semakin inovatif. Bukan hanya dari segi bentuk tapi juga makna filosofis dan material yang digunakan.
Salah satu yang paling mencuri perhatian tahun ini datang dari Sekaa Teruna (ST) Tunas Muda Banjar Dukuh Mertajati, Sidakarya, yang menampilkan ogoh-ogoh bertajuk ‘Angkara’.
Tak sekadar karya seni raksasa, ogoh-ogoh ini mengusung pesan mendalam tentang kondisi manusia di zaman Kali Yuga—era yang dalam ajaran Hindu digambarkan sebagai zaman penuh kegelapan, pertengkaran, dan keserakahan.
“Angkara berarti sifat kejam atau jahat. Kami ingin menggambarkan bagaimana manusia bisa menyalahgunakan inderanya—mata, hati, dan telinga—untuk hal-hal negatif,” jelas Ketua ST Tunas Muda, Pageh Wedhanta.
Ogoh-ogoh setinggi lebih dari dua meter ini memiliki tiga bagian, masing-masing mewakili simbol indera manusia.
Konsepnya diangkat dari kutipan kitab Srimad Bhagavatan yang menyebutkan karakteristik manusia di zaman kegelapan: pendek umur, mudah bertengkar, gelisah, dan serakah.
“Manusia sering jadi pelaku utama dalam memperpanjang zaman ini. Maka dari itu kami mengangkat tema ini untuk menggugah kesadaran,” ujarnya.
Baca Juga: Pakai Botol Plastik Empat Karung, Ogoh-ogoh Ulian Manusa Kritik Lingkungan
Keunikan ‘Angkara’ bukan hanya pada tema, tetapi juga dari materialnya. Ogoh-ogoh ini dibangun menggunakan limbah kaca dan kaleng.
“Kaca itu kami maknai sebagai cermin. Tapi cerminnya gelap, menggambarkan sisi negatif yang tidak patut ditiru,” imbuh Pageh.
Dalam proses kreatifnya, sekitar 100 pemuda dan pemudi banjar terlibat aktif. Pengerjaannya memakan waktu hingga tiga bulan dan menelan biaya sekitar Rp 30 juta hingga Rp 35 juta.
Beratnya? Diperkirakan mencapai 700 kilogram. Hal itu menjadikan pergerakannya cukup menantang.
Untuk mendukung pergerakan ogoh-ogoh, mereka memasang mesin di 10 titik. Termasuk dinamo penggerak aksesoris, pompa air untuk efek air mancur, serta lampu yang menghiasi seluruh tubuh ogoh-ogoh.
Menurut Pageh, setiap tahun ogoh-ogoh yang dibuat oleh ST Tunas Muda selalu lahir dari kegelisahan kolektif para pemuda banjar terhadap kondisi sosial. Tema, bentuk, hingga bahan dipilih dengan pertimbangan mendalam, bukan sekadar estetika.
“Bagi kami, ogoh-ogoh bukan cuma seni pertunjukan. Tapi cara kami menyuarakan kegelisahan zaman,” tandasnya. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya