RadarBuleleng.id – Salah seorang mahasiswa perempuan di Universitas Udayana (Unud) mendapat teror melalui akun anonim di media sosial.
Mahasiswa itu mendapat teror gara-gara kerap menyuarakan sikap kritis terhadap pemerintah.
Ancaman itu datang melalui direct message (DM) dari seseorang tak dikenal. Akun anonim itu mengklaim bisa membuat mahasiswa itu di-drop out apabila terus menerus bersikap kritis.
“Kuliah di Universitas Udayana? Kamu pilih dilaporkan dan dikeluarkan secara tidak pantas, atau berhenti menggiring opini yang membenci pemerintah?” demikian bunyi ancaman dari akun tersebut.
Mahasiswa tersebut membenarkan adanya ancaman tersebut. Ia menyebut ancaman diterima setelah dia menyuarakan sikap kritis terkait kondisi politik nasional, serta sikap terkait RUU TNI.
“Saya baru dapat satu DM saja sih, jadi belum ambil tindakan apa-apa. Tapi kalau makin banyak yang ngancam, mungkin saya bakal private akun saja,” ungkapnya.
Baca Juga: Akademisi Unud: Masyarakat Bali Mulai Jenuh dengan Politik
Ia mengaku tak tahu pasti cuitan mana yang membuatnya disasar. Namun, karena cukup vokal di media sosial, ia menyadari bahwa setiap postingannya tentang isu-isu pemerintahan sering kali diserbu oleh akun-akun buzzer.
“Setiap saya bahas soal pemerintah, pasti rame. Saya sering retweet juga soal demo atau kritik RUU TNI, mungkin itu yang bikin saya di-DM. Tapi jujur aja, saya nggak peduli. Justru makin semangat buat speak up,” tuturnya.
Ancaman tak hanya datang di X. Di Instagram, ia juga menerima komentar bernada intimidasi, bahkan ada yang mengajak bertemu langsung. Meski begitu, ia menganggapnya sebagai risiko dari menyuarakan opini di ruang publik.
“Di Instagram, saya beberapa kali dikomen orang yang nanya saya siapa, ngajak ketemuan juga. Tapi saya nggak anggap serius,” tambahnya.
Walau sempat diteror dengan ancaman dikeluarkan dari kampus, ia menegaskan tidak akan mundur. Baginya, masih banyak persoalan penting di Indonesia yang perlu dikritisi ketimbang takut menghadapi buzzer.
“Saya malah merasa suara saya sampai ke mereka. Itu artinya mereka dengar. Jadi saya akan terus bersuara, bahkan lebih keras lagi,” tegasnya.
Menanggapi isu tersebut , Rektor Universitas Udayana, Prof. I Ketut Sudarsana menegaskan pihak kampus tetap menjaga independensi, serta menjunjung tinggi kebebasan berpendapat sebagai bagian dari nilai akademik.
“Universitas Udayana tidak pernah, dan tidak akan mengeluarkan mahasiswa, hanya karena mereka menyampaikan pendapat atau kritik terhadap pemerintah. Selama dilakukan secara etis dan bertanggung jawab, itu adalah bagian dari dinamika intelektual kampus,” jelasnya.
Prof. Sudarsana juga memastikan bahwa kampus tertua di Bali itu adalah ruang aman untuk berpikir, berdialog, dan bertumbuh.
“Sekali lagi, kami berkomitmen menjaga Udayana sebagai ruang aman untuk tumbuh secara intelektual dan moral,” tegasnya. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya