Radarbuleleng.jawapos.com- Desa Tenganan Dauh Tukad memiliki tradisi unik. Tradisi ini pun menjadi momen paling ditunggu.
Tradisi mesabatan biu atau perang pisang, terus dilestarikan hingga kini.
Seperti terlihat di Desa Tenganan Dauh Tukad, tampak ramai pada Selasa (15/4).
Terlihat beberapa guide lokal sedang memandu wisatawan yang sedang berkunjung ke desa.
Mereka ingin menyaksikan tradisi Mesabatan Biu atau yang lebih dikenal dengan nama Perang Pisang.
Mesabatan Biu bukan sekadar sebuah permainan atau hiburan belaka. Bagi masyarakat Tenganan Dauh Tukad, tradisi ini memiliki makna yang dalam sebagai sebuah uji mental bagi calon pemimpin generasi muda berikutnya.
”Tradisi ini digelar pada sasih katiga penghitungan kalender Bali. Ini juga rangkaian dari Usaba Katiga,” kata Kelihan Desa Adat Tenganan Dauh Tukad, I Wayan Tisna.
Dia menjelaskan, tradisi mesabatan biu ini juga dimaknai sebagai ajang uji mental dan ketangguhan calon ketua dan wakil ketua atau disebut Penampih kelompok pemuda di Desa Tenganan Dauh Tukad sebelum dikukuhkan.
Calon kelian (ketua) truna dan wakilnya dalam prosesi mesabat-sabatan biu ini akan sengaja diberi tanda pada wajah seperti topeng dengan warna, mereka dalam tradisi ini disabat (dilempari dengan buah pisang) oleh truna (pemuda) yang lainnya.
”Nah disinilah mental seorang pemimpin itu diuji, apakah calon pemimpin itu emosional atau tetap tenang,” jelasnya.
Menurutnya sebagai pemimpin, rasa emosional itu harus tetap dijaga agar tidak gampang emosional dalam memimpin dan mengambil tindakan.
Tradisi perang pisang ini melibatkan kelompok pemuda senior dan yang saling berhadapan.
Di mana mereka menggunakan buah pisang sebagai senjata utama untuk saling melempar dan bertahan. Dalam tradisi ini, setiap pemuda diuji kemampuannya dalam menghadapi tantangan.
”Mereka tidak hanya harus sigap dan terampil dalam bertahan, tetapi juga harus bisa bekerja sama dalam tim, menunjukkan rasa tanggung jawab, dan memahami pentingnya menjaga keharmonisan antar anggota kelompok,” sebutnya.
Selanjutnya, pemuda yang berhasil melewati tradisi ini dengan penuh kesabaran dan keteguhan dianggap memiliki kualitas yang dibutuhkan untuk memimpin.
Bagi masyarakat Tenganan Dauh Tukad, pemuda yang mengikuti Mesabatan Biu dianggap telah menunjukkan komitmen dan kesiapan mereka dalam menjaga kelangsungan adat tradisi dan budaya desa Tenganan Dauh Tukad.***
Editor : Donny Tabelak