Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Petani Jagung Menjerit karena Tak Ada Pembeli, Didatangi Polisi

Francelino Junior • Kamis, 17 April 2025 | 16:05 WIB

Polisi mendatangi petani jagung di wilayah Desa Pemuteran, Kecamatan Gerokgak, Kabupaten Buleleng didatangi polisi untuk memeriksa kebenaran informasi.
Polisi mendatangi petani jagung di wilayah Desa Pemuteran, Kecamatan Gerokgak, Kabupaten Buleleng didatangi polisi untuk memeriksa kebenaran informasi.

Radarbuleleng.jawapos.com- Para petani jagung di wilayah Desa Pemuteran, Kecamatan Gerokgak, Kabupaten Buleleng didatangi Polres dan Pemerintah Kabupaten Buleleng pada Selasa (15/4).

Ini buntut dari jeritan mereka, mengenai sulitnya menjual hasil panen jagung di lahan sekitar 60 hektar pasca panen. 

Kedatangan aparat dan pemerintah untuk bertatap muka bersama petani serta pengepul jagung di wilayah Desa Pemuteran.

Apalagi kini TNI-Polri sudah dilibatkan oleh pemerintah dalam upaya swasembada pangan.

Mereka bersama-sama melakukan panen jagung terlebih dahulu, dilanjutkan dengan pemeriksaan langsung ke gudang jagung milik pengepul.

Sehingga dapat diketahui kondisi hasil pertanian yang disebut sulit untuk dipasarkan. 

”Institusi kepolisian memiliki tugas untuk melakukan pendampingan dan pendataan terhadap para petani. Jika ditemukan lahan tidur, maka kami akan dorong untuk dimanfaatkan,” ujar Kapolres Buleleng, AKBP Ida Bagus Widwan Sutadi pada Rabu (16/4). 

Tindakan ini setidaknya membuat Polres Buleleng mempererat sinergitas dan komitmen, dalam mendukung ketahanan pangan serta memperkuat hubungan antara aparat kepolisian dan masyarakat petani di wilayahnya.

Bersamaan dengan itu, Pemerintah Kabupaten Buleleng diwakili Dinas Pertanian dan Perumda Swatantra meyakinkan para petani, agar tidak khawatir apabila hasil panennya tidak terserap. 

”Kami akan pelajari dan kaji bersama pihak-pihak terkait, termasuk koordinasi untuk perbaikan akses jalan ke lahan pertanian demi mendukung kelancaran aktivitas petani,” tambah AKBP Widwan. 

Menurut para petani, keterbatasan pupuk dan bibit, harga jual yang tidak sebanding dengan biaya produksi, serta akses jalan yang tidak memadai menjadi kendala yang dihadapi mereka di lapangan.

Selain itu, jagung nyaris tidak bisa dipanen akibat tak ada pembeli. Pada akhirnya, petani menumpahkan kekesalannya kepada pemerintah, yang dianggap tidak becus menggarap sektor pertanian.

”Jagungnya terpaksa dijual dibawah harga pasar atau terpaksa dipanen tapi ditimbun di rumah,” ujar Ketua Serikat Petani Buleleng, M. Rasyi. 

Dijelaskan, harga jagung yang biasa dijual sekitar Rp 8 juta per 30 are, sampai ditawarkan sampai Rp 5 ribu per kilogram, pun tetap tidak ada pembeli.

Kondisi itu menyebabkan petani pasrah dan memilih membiarkan tanaman jagungnya tanpa dipanen.

Yang membuat mereka semakin menjerit, pengusaha yang biasa membeli jagungnya, menolak untuk membeli.

Selain alasan harga jatuh, para pengusaha pakan ternak tidak lagi beroperasi akibat pabriknya tutup.***

Editor : Donny Tabelak
#swasembada pangan #pemkab buleleng #panen jagung #petani jagung #Polres Buleleng