Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Seniman Bali Suarakan Perubahan Iklim Hingga Politik Lewat Lukisan

Juliadi Radar Bali • Senin, 21 April 2025 | 22:07 WIB

 

KRITIK LEWAT KARYA: Suasana pameran berbagai lukisan karya seniman lokal Bali di Labyrinth Studio Bali di Nuanu City di Tabanan.
KRITIK LEWAT KARYA: Suasana pameran berbagai lukisan karya seniman lokal Bali di Labyrinth Studio Bali di Nuanu City di Tabanan.

RadarBuleleng.id – Sebanyak 27 karya lukisan dari para seniman lokal Bali yang tergabung dalam komunitas Militan Art dipamerkan di Labyrinth Studio Bali, kawasan Nuanu City, Pantai Nyanyi, Desa Beraban, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Bali. 

Pameran tersebut menjadi magnet baru bagi wisatawan dan warga lokal yang berkunjung ke kawasan kreatif di Tabanan itu.

Karya yang dipajang beragam, mulai dari gaya abstrak hingga realis. Mayoritas membawa pesan kuat soal isu perubahan iklim, namun tak sedikit pula yang mengangkat tema budaya lokal, politik, dan kesetaraan gender.

“Kami menampilkan 27 lukisan, ditambah beberapa karya seni instalasi,” ujar Herizal Lubis, Manager Labyrinth Art Gallery.

Pameran digelar bertepatan dengan peringatan Hari Kartini. Pameran itu juga menjadi bagian dari talk show seputar kesetaraan gender yang berlangsung di lokasi yang sama. 

“Jadi sambil mengikuti acara, pengunjung juga bisa menikmati karya seniman lokal Bali,” imbuhnya.

Lubis menjelaskan, meskipun galeri telah resmi dibuka sejak November 2024, kolaborasi dengan Militan Art baru dimulai Maret lalu, bertepatan dengan Hari Air Sedunia. Rangkaian pameran ini akan berlangsung hingga Mei 2025.

Tak semua lukisan mengangkat tema iklim. Beberapa juga menyoroti nilai-nilai kultural Bali dan dinamika sosial politik yang dikemas dalam gaya visual yang kuat. 

“Total ada 19 seniman yang terlibat. Di antaranya Nyoman Sujana Kenyem, Romi Sukanada, Gusti Buda, hingga Putu Sudiana,” terang Lubis.

Pameran ini tak sekadar jadi ruang apresiasi seni, tapi juga jadi ajang transaksi. Sejumlah karya bahkan sudah berpindah tangan. 

“Sudah delapan lukisan terjual, harganya bervariasi dari jutaan sampai puluhan juta rupiah,” ungkapnya.

Ke depan, pihak galeri berencana menggandeng lebih banyak seniman Tabanan, termasuk komunitas seni Batukaru yang belum memiliki ruang eksibisi tetap. 

“Selama ini banyak seniman Tabanan justru tampil di Denpasar. Harapannya, Labyrinth Art Gallery bisa jadi wadah mereka berkarya dan tampil di rumah sendiri,” tandasnya. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

Editor : Eka Prasetya
#lukisan #kesetaraan gender #politik #komunitas #seniman #perubahan iklim #pameran #wisatawan #karya