Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Bali Blackout: Energi Fosil jadi Biang Kerok, PLTS Bisa jadi Solusi Mandiri Energi

I Wayan Widyantara • Senin, 5 Mei 2025 | 02:03 WIB

 

PANEL SURYA: Kondisi panel surya di Manik Aji, Karangasem.
PANEL SURYA: Kondisi panel surya di Manik Aji, Karangasem.

RadarBuleleng.id - Pulau Bali lumpuh total gara-gara listrik padam selama berjam-jam. Peristiwa Bali Blackout itu terjadi pada Jumat (2/5/2025), mulai pukul 16.00 WITA. 

PLN menyebut gangguan sistem transmisi sebagai biang kerok padamnya listrik di seluruh wilayah Bali.

Informasi awal yang beredar di grup-grup WhatsApp menyebutkan gangguan terjadi pada kabel laut penghubung sistem Jawa-Bali. 

Kabel itu adalah jalur utama pasokan listrik dari Jawa ke Bali. Akibatnya, seluruh pembangkit yang tersambung otomatis terlepas dari jaringan.

Direktur Distribusi PLN, Adi Priyanto, membenarkan hal tersebut. “Permasalahan teknis pada sistem transmisi menyebabkan beberapa pembangkit terlepas dari jaringan. Ini yang memicu blackout,” ujarnya.

Insiden ini bukan kali pertama. Pemerhati energi dari 350 Indonesia, Suriadi Darmoko, menyebut peristiwa ini jadi bukti lemahnya ketahanan energi nasional. 

“Ini sudah keempat kalinya sistem Jawa-Bali kolaps. Artinya, sistem kita terlalu terpusat dan rentan,” katanya.

Baca Juga: Bali Blackout: PLTU Celukan Bawang Tetap Beroperasi, Dirut PLN Batal Cek Pembangkit

Menurutnya, ketergantungan pada energi fosil dan sistem terpusat adalah masalah utama. 

“Kalau terus begini, blackout akan terus berulang. Saatnya Bali beralih ke energi terbarukan berbasis komunitas,” lanjutnya.

Penelitian dari CORE Universitas Udayana bersama Greenpeace Indonesia menunjukkan Bali punya potensi energi surya yang luar biasa. Sekitar 98 persen potensi energi terbarukan di Bali berasal dari matahari.

Intensitas sinar matahari di Bali mencapai 1.700 kWh per meter persegi per tahun. Itu hampir dua kali lipat dari standar kelayakan panel surya di Eropa.

“Total potensi energi surya Bali diperkirakan 113 ribu GWh per tahun. Bandingkan dengan kebutuhan listrik Bali yang cuma 10 ribu GWh pada 2027,” jelas Suriadi.

Dia mendorong agar Bali segera membangun pembangkit berbasis komunitas. Mulai dari Banjar, Desa Adat, hingga pemerintah kabupaten/kota. Model seperti PLTS Nusa Penida dan PLTS Kayubihi di Bangli bisa jadi contoh. 

“Yang penting ada kemauan politik dari pemda. Jangan terus andalkan jaringan antar pulau yang rapuh,” tegasnya.

Selain memperkuat ketahanan energi, sistem ini juga bisa mendongkrak citra Bali sebagai destinasi ekowisata dunia. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

Editor : Eka Prasetya
#bali #kabel #padam #plts #blackout #listrik #fosil #jawa #energi #pln