Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Monumen Perang Laut di Bali Terbengkalai. Dulu Arena Pertempuran, Kini Tak Terurus

Muhammad Basir • Senin, 5 Mei 2025 - 13:54 WIB

 

TERBENGKALAI: Kondisi Monumen Perang Laut di kawasan hutan Taman Nasional Bali Barat. Kini monumen tersebut terbengkalai.
TERBENGKALAI: Kondisi Monumen Perang Laut di kawasan hutan Taman Nasional Bali Barat. Kini monumen tersebut terbengkalai.

RadarBuleleng.id – Monumen Operasi Lintas Laut Jawa–Bali yang terletak di tepi Jalan Raya Denpasar–Gilimanuk, kini dalam kondisi mengenaskan. 

Bangunan bersejarah yang menjadi saksi keberanian para pejuang kemerdekaan Indonesia tahun 1946 silam itu, kini dalam kondisi terurus. Bahkan peringatannya pun tak pernah digelar lagi.

Monumen ini dulunya menjadi simbol perjuangan pasukan gabungan TNI dan rakyat dalam menghadang pasukan Belanda yang menduduki Bali. 

Namun kini, bangunan utamanya, terutama bagian wantilan sudah tak terurus. Atap dan plafon jebol, tembok retak, hingga kamar mandi tak bisa digunakan.

Padahal lokasi tersebut menyimpan foto-foto tokoh pejuang seperti Kapten Markadi, tanda jasa, dan benda peninggalan sejarah. Sayang bangunan kini rusak parah. 

“Sudah ada yang sempat mengukur kerusakan, tapi belum diperbaiki. Saya perbaiki seadanya sendiri, karena tak ada alat,” ujar Margiyo, satu-satunya petugas kebersihan yang bertugas di monumen tersebut.

Baca Juga: Belajar Sejarah di Monumen Perang Jagaraga

Kerusakan tak hanya akibat cuaca dan usia bangunan, tetapi juga karena gangguan kawanan monyet dari kawasan Taman Nasional Bali Barat (TNBB). 

Primata itu sering merusak bagian atap. Minimnya anggaran perawatan membuat kondisi bangunan semakin tak terurus sejak dua tahun terakhir.

Padahal, wantilan monumen ini sempat direhabilitasi sekitar tahun 2018. Sayangnya, setelah itu tak ada anggaran tambahan untuk pemeliharaan. 

Selama ini operasional hanya disuplai untuk pembelian 20 liter bensin per bulan. Bensin itu digunakan untuk mesin potong rumput.

Peringatan tahunan setiap 4 April, yang sebelumnya rutin digelar oleh Pemkab Jembrana bersama keluarga Kapten Markadi, juga sudah tidak pernah terlaksana. 

“Dulu rutin, apalagi saat istri almarhum Kapten Markadi masih hidup. Sekarang, tinggal napak tilas Ngurah Rai yang masih dilakukan tiap tahun,” ujar Margiyo.

Monumen ini menjadi pengingat peristiwa heroik pada 3 April 1946, saat pasukan gabungan dari Angkatan Darat, Angkatan Laut, dan Kepolisian menyeberangi Selat Bali menuju Pulau Dewata.

Operasi besar ini dipimpin oleh tiga tokoh militer, yakni Letkol I Gusti Ngurah Rai, Kapten Waroka, dan Kapten Markadi.

Dalam kegelapan malam, pasukan mereka menyeberang menggunakan perahu jukung dan mayang—kapal sederhana yang menjadi ‘armada perang’ kala itu. 

Di tengah laut, pasukan Kapten Markadi menghadapi serangan mendadak kapal patroli Belanda. Pertempuran laut jarak dekat pun pecah. Perang  itu tercatat sebagai perang laut pertama dalam sejarah Republik Indonesia.

Salah satu kapal patroli musuh berhasil dibakar dan tenggelam. Kapal kedua yang hendak membantu, berhasil dipukul mundur berkat tembakan senapan mesin berat dari perahu para pejuang. 

Kemenangan itu menjadi simbol bahwa Republik Indonesia tak pernah gentar mempertahankan kemerdekaannya. Kini, 79 tahun kemudian, tempat penuh sejarah itu nyaris dilupakan. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

Editor : Eka Prasetya
#bali #perjuangan #sejarah #jembrana #taman nasional #belanda #tni #kapten #pejuang #kemerdekaan #TNBB #monumen