RadarBuleleng.id – Rencana pengembangan Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Pengambengan senilai lebih dari Rp 1 triliun menuai kekhawatiran warga.
Proyek berskala nasional ini dinilai berpotensi mempercepat abrasi pantai, khususnya di wilayah pesisir Kabupaten Jembrana, Bali, yang sudah terdampak parah.
Kekhawatiran ini bukan tanpa dasar. Pembangunan pemecah ombak (breakwater) di kawasan pelabuhan disebut-sebut menjadi pemicu abrasi yang makin parah di Pantai Pebuahan, Desa Banyubiru.
"Menurut ahli saat sosialisasi, perubahan arus laut akibat pemecah ombak menyebabkan abrasi makin cepat. Pantai Pebuahan jadi yang paling terdampak,” ujar Hariyanto, warga setempat.
Masalahnya, dari total 2,1 kilometer garis pantai yang tergerus abrasi, baru 780 meter yang telah dipasang pelindung pantai. Warga berharap proyek pengamanan pantai bisa dituntaskan sebelum atau bersamaan dengan pengembangan pelabuhan.
"Katanya dari pusat, semua titik yang terkena abrasi akan dibangun senderan. Harusnya disegerakan agar abrasi tidak makin parah,” tambahnya.
Baca Juga: Abrasi di Bali Barat Semakin Parah. Tanggul Buatan Warga Hancur Digempur Ombak
Menanggapi kekhawatiran itu, Kepala Sub Bagian Umum PPN Pengambengan, Lukman Hadi menegaskan, pengembangan pelabuhan ini telah melalui kajian menyeluruh. Termasuk penghitungan dampak perubahan arus dan suplai sedimen agar tak memperburuk kondisi pantai sekitar.
“Sudah ada koordinasi dengan berbagai instansi dan keluar AMDAL-nya. Ini bukan proyek sembarangan, karena masuk Proyek Strategis Nasional (PSN),” ujarnya.
Proyek pengembangan PPN Pengambengan ini telah tercantum dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029 dan dituangkan dalam Perpres Nomor 12 Tahun 2025. Pembangunan ditarget rampung dan mulai beroperasi pada 2028.
Total kebutuhan lahan mencapai lebih dari 100 hektar, dengan rincian 81 hektar untuk kolam labuh, breakwater, dermaga, dan revetment. Sisanya untuk pembangunan kantor, kawasan industri, fasilitas pendukung pelabuhan, serta area wisata.
Karena terbatasnya daratan, akan dilakukan reklamasi laut seluas 3,5 hektar di sebelah barat kolam labuh yang ada saat ini.
Konon , proyek ini ditarget menyerap hingga 55.000 tenaga kerja dan menggerakkan ekonomi dengan perputaran uang harian mencapai Rp 32 miliar. Pendapatan negara bukan pajak (PNBP) pun diprediksi mencapai Rp 150 miliar per tahun. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya