Radarbuleleng.jawapos.com- Mengenai siswa tingkat sekolah menengah pertama (SMP) di Kabupaten Buleleng yang masih lambat dalam membaca, menulis, dan berhitung (calistung), sebenarnya disebut memiliki gaya belajar tersendiri.
Maka dari itu, tanggung jawab pendidikan tidak hanya di sekolah saja, melainkan orang tua pun juga wajib bertanggung jawab.
Hal ini diungkap Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kerjasama Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Gede Rasben Dantes usai melakukan peninjauan pendampingan siswa yang mengalami gangguan belajar, oleh mahasiswa Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Undiksha di SMPN 2 Singaraja pada Kamis (5/6) pagi.
Menurutnya, selama satu bulan pendampingan ini, para pelajar tingkat SMP yang lambat calistung sudah menunjukkan perkembangannya.
Yang berarti, mereka memiliki kemampuan dan tidak bodoh. Ini terbukti pada sebelas orang siswa di SMPN 2 Singaraja yang terlambat calistung.
”Hanya saja perlu ditangani dengan benar, sebab setiap anak itu differentiated learning, punya gaya belajar sendiri. Jadi guru-guru harus peka terhadap ini, sehingga bisa memberikan treatment,” ujarnya.
Dibeberkan lagi, Undiksha menerapkan protokol dalam penanganan ini.
Mulai dari identifikasi permasalahan, pengklasifikasian, hingga pengambilan tindakan yang tepat.
Contohnya dengan mengajar mengeja, menggunakan kartu, hingga pola-pola tertentu. Sehingga memudahkan siswa untuk paham calistung.
Dalam perjalanan identifikasi, ditemukan 85 siswa yang ternyata IQ-nya berada dibawah normal alias masuk keterbelakangan mental.
Dengan temuan itu, pihaknya merekomendasikan agar dapat melanjutkan pendidikannya di sekolah luar biasa. Sebab di sekolah reguler, mungkin saja tidak dapat ditangani dengan baik.
Selain itu, didapati juga alasan ekonomi menjadi salah satu faktor yang menyebabkan siswa-siswa itu lambat dalam calistung.
Sebab sampai di rumah, mereka harus membantu orang tuanya untuk menambah penghasilan.
”Kegiatan ini tidak hanya satu atau dua bulan saja. Harus berlanjut. Keluarga juga punya tanggung jawab, tidak hanya sekolah saja,” tegasnya.
Berdasarkan hasil pendampingan kepada ratusan siswa tersebut, maka sebanyak 43,1 persen siswa ada di level dasar, sebab belum hafal abjad dan mengeja masih terbata-bata. Contohnya di SMPN 2 dan 4 Sawan.
Kemudian 36,5 persen siswa masuk ke dalam level menengah, karena kesulitan membaca kata panjang maupun konsonan ganda, meski sudah mengenal abjad. Contohnya di SMPN 2 Singaraja dan 1 Gerokgak.
Sedangkan 20,4 persen lagi masuk ke dalam level lanjut, sebab mereka sudah lancar membaca tapi kurang paham dengan yang dibaca, bahkan terlalu cepat dalam membaca. Contohnya di SMPN 1 Sawan dan 3 Seririt.
Dekan FIP Undiksha, I Wayan Widiana menyebut pihaknya menemukan enam faktor yang menyebabkan para siswa menjadi terlambat membaca.
Pertama gangguan kognitif rendah, sehingga sulit dalam menangkap materi. Kedua gangguan fisik, sehingga susah dalam membaca dan menulis.
Ketiga karena gangguan saraf atau disleksia. Keempat gangguan emosional dan psikososial, seperti trauma dan pertimbangan kenyamanan.
Kelima karena proses belajar dan motivasi/dukungan. Katanya, yang menarik adalah faktor berkomunikasi yang berbeda.
”Misalnya di rumah pakai Bahasa Bali, tapi di sekolah Bahasa Indonesia, jadi bingung. Kemudian keseharian pakai bahasa media sosial/gawai, kemudian pakai bahasa buku, jadinya tidak paham,” jelas Widiana.***
Editor : Donny Tabelak