RadarBuleleng.id – Populasi monyet di Daya Tarik Wisata (DTW) Alas Kedaton, Desa Kukuh, Marga, Tabanan, Bali, kian tak terkendali. Setiap tahun jumlahnya terus meningkat, hingga kini diperkirakan mencapai 2.500 ekor.
Lonjakan populasi ini memicu kekhawatiran warga sekitar lantaran kawanan kera mulai merambah ke pemukiman. Tak hanya masuk ke rumah warga untuk mencari makanan, sebagian kera bahkan merusak atap rumah yang berada di sekitar kawasan hutan wisata.
Kondisi ini menjadi pekerjaan rumah serius bagi pengelola DTW Alas Kedaton dan Desa Adat setempat.
Bendesa Adat Kukuh Marga sekaligus pengelola DTW Alas Kedaton, I Gusti Ngurah Arta Wijaya, mengakui populasi yang melonjak mendorong kera keluar dari habitatnya.
“Dulu tidak sampai seperti ini. Sekarang jumlahnya ribuan. Kami sudah sediakan pakan dengan anggaran jutaan rupiah tiap bulan, tapi tetap tidak cukup,” ujar Arta Wijaya.
Akibat keterbatasan pakan, kera kini tidak hanya beraktivitas di dalam hutan, melainkan mulai menjelajah hingga ke parkiran, area pura, bahkan rumah warga di sekitar Alas Kedaton.
Untuk mengatasi hal ini, pihaknya telah menjalin kerja sama dengan tim dari Universitas Udayana. Salah satu upaya yang ditempuh adalah sterilisasi kera. Namun, biaya yang dibutuhkan cukup besar.
“Biaya steril satu ekor kera mencapai Rp 500 ribu. Kami kesulitan jika harus menanggung semua, apalagi jumlahnya ribuan,” jelasnya.
Langkah lain yang telah ditempuh yakni melapor ke Dinas Pertanian Tabanan. Namun, hingga kini belum ada tindak lanjut.
Pihaknya bahkan sempat menggelar upacara secara niskala bersama Jero Mangku setempat, namun hasilnya belum efektif.
Arta Wijaya juga mengimbau masyarakat agar tidak memberi makan kera yang sudah berada di luar area hutan. Harapannya, kera-kera tersebut bisa kembali ke habitat asalnya.
“Kami berharap ada perhatian dari pemerintah daerah. Bantuan sangat kami perlukan untuk mengendalikan populasi kera yang terus meningkat,” tegasnya.
Ia menyebutkan, persoalan serupa juga terjadi di kawasan wisata Sangeh, Kecamatan Mengwi, Badung.
Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata Tabanan A. A. Ngurah Satria Tenaya mengaku belum mengetahui kondisi terkini populasi kera di DTW Alas Kedaton.
Ia menyebut, obyek wisata itu kini dikelola mandiri oleh desa adat setelah tiga tahun lalu memutus kerja sama pengelolaan dengan Pemkab Tabanan.
“Kalau tidak salah, sejak tiga tahun lalu pengelolaan sudah dikembalikan ke desa adat,” ujarnya singkat. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya