Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Hormati Sepak Terjang Maestro Seni Lukis Bali, Sebanyak 24 Karya Lukis Dipamerkan

Marsellus Nabunome Pampur • Rabu, 23 Juli 2025 | 01:05 WIB
 
Sejumlah karya bertema flora dan fauna dipajang di dinding pameran di Arma Museum, Ubud, Gianyar.
Sejumlah karya bertema flora dan fauna dipajang di dinding pameran di Arma Museum, Ubud, Gianyar.
 
Radarbuleleng.jawapos.com- Dalam rangka menghormati sepak terjang maestro seni lukis Bali, I Dewa Putu Sena, sebuah pameran bertajuk Tribute to I Dewa Putu Sena 1943–2024 digelar di Arma Museum, Ubud, Gianyar. Pameran ini secara resmi dibuka pada Minggu (20/7) malam.
 
Setidaknya ada 22 karya lukis yang dipamerkan. Karya-karya yang dipamerkan ini mencerminkan kepekaan artistik sang maestro terhadap keindahan flora dan fauna, serta pendekatan khas gaya Pengosekan yang ia kembangkan sejak era 1970-an. Karya-karya yang dipamerkan ini dikurasi oleh I Made Susanta Dwitanaya. 
 
Founder Arma Museum, Anak Agung Gde Rai menjelaskan, sosok Dewa Putu Sena adalah seniman rupa dan sekaligus seorang kerawitan yang benar-benar berbakat.
 
Ia menjadi pendobrak dalam perkembangan seni rupa Pengosekan dengan karya-karyanya yang khas flora dan fauna.
 
Interaksinya dengan seniman asing seperti Alexander Goetz menghidupkan kreativitas baru yang membuat karyanya diminati hingga mancanegara. 
 
”Pengaruhnya bahkan merambah ke Kutuh, Keliki, hingga Sayan, menginspirasi generasi muda saat itu. ARMA merasa berkewajiban untuk menjaga dan mengoleksi karya-karyanya sebagai bagian dari sejarah seni rupa Bali," katanya di sela pembukaan pameran. 
 
Sementara itu, sehari sebelum pembukaan pameran, Wakil Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Giring Ganesha, juga turut memberikan apresiasinya atas karya-karya Dewa Putu Sena.
 
Dia datang langsung ke Museum Arma dan untuk mengamati karya I Dewa Putu Sena.
 
Sosok I Dewa Putu Sena sendiri dikenal sebagai pelopor seni lukis bertema flora-fauna dari Pengosekan.
 
Melalui teknik tradisional seperti ngorten, nyelah, ngabur, nguap, hingga nyenter, dia menghadirkan karya-karya yang harmonis secara warna dan komposisi, sekaligus memperkaya spektrum tema dalam seni lukis Bali yang kala itu didominasi oleh pewayangan dan adegan keseharian.
 
Lahir tahun 1943 di Pengosekan, Ubud, I Dewa Putu Sena tidak hanya dikenal sebagai pelukis produktif, tetapi juga guru yang menularkan keahliannya kepada generasi muda.
 
Kiprahnya juga merambah dunia internasional, termasuk partisipasi dalam pameran di Museum Fukuoka, Jepang (1985), serta kerjasama dengan kolektor dan art dealer asal Jerman, Alexander Goetz.***
Editor : Donny Tabelak
#Seni lukis #arma museum #seniman #pameran