Radarbuleleng.jawapos.com- Sebanyak 19 siswa dari 26 siswa SMP Negeri 3 Banjarangkan yang mengalami keracunan setelah mengonsumsi nasi campur prasmanan di kantin sekolah pada Rabu lalu (13/8), telah kembali bersekolah pada Kamis kemarin (14/8).
Sementara, siswa lainnya memutuskan tidak bersekolah untuk pemulihan meski sudah sehat.
”Tidak ada yang dirawat inap. 19 siswa sudah benar bugar dan kembali bersekolah. Mereka hari ini latihan tari kecak. Beberapa yang tidak masuk sudah dikonfirmasi ke orang tuanya dan dinyatakan sudah sehat tapi mungkin butuh istirahat saja,” ujar Kepala Sekolah SMPN 3 Banjarangkan, Ketut Sudasma, Kamis (14/8).
Terkait kantin yang diduga sebagai penyebab musibah keracunan tersebut terjadi, dikatakan Sudarma, kantin itu tutup kemarin.
Diduga pemiliknya terpukul dengan peristiwa tersebut. Ia tidak pernah meragukan kualitas makanan yang dijual pihak kantin karena tidak pernah ada kasus keracunan selama ini.
”Tidak hanya murid, guru-guru pun biasa makan di kantin. Tidak pernah kejadian seperti ini. Ini peristiwa pertama kalinya,” katanya.
Berkaitan dengan tindaklanjut atas peristiwa keracunan tersebut, dia mengaku masih menunggu hasil pengujian sampel makanan dan koordinasi dengan Dinas Kesehatan.
”Kami akan berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan. Kami akan menjadi objek pembinaan supaya bergerak bersama-sama. Yang mana boleh dan tidak boleh, bagaimana pengolahannya, dan sebagainya kalau terbukti (ada yang bermasalah). Keputusan bukan dari kami, tapi pemerintah,” jelasnya.
Sementara itu, Kadis Kesehatan Kabupaten Klungkung, I Gusti Ayu Ratna Dwijawati menuturkan, tim telah turun mengambil sampel makanan maupun peralatan yang digunakan pihak kantin untuk mengungkap penyebab pasti peristiwa keracunan tersebut.
Sampel yang diambil tidak hanya milik kantin Ni Wayan Astuti yang diduga sebagai penyebab keracunan puluhan siswa tersebut, tetapi kantin lainnya yang ada di SMP Negeri 3 Banjarangkan.
”Sampel makanannya diserahkan kepada Balai Laboratorium Kesehatan Provinsi Bali. Hasilnya perlu menunggu sekitar seminggu untuk mengetahui penyebab pastinya. Hari ini tim kembali turun untuk ambil sampel lainnya,” jelasnya.***
Editor : Donny Tabelak