RadarBuleleng.id - Bencana abrasi di pesisir Banjar Pebuahan, Desa Banyubiru, Kecamatan Negara, Kabupaten Jembrana, Bali, kian memprihatinkan.
Gelombang tinggi yang terjadi dalam beberapa hari terakhir membuat kondisi daratan semakin terkikis.
Sebanyak dua unit rumah milik warga bahkan sudah ambruk dan hilang tersapu ombak.
Dari pantauan di lokasi, rumah-rumah yang terdampak berada di pesisir barat Banjar Pebuahan, tepatnya di sisi pantai yang belum memiliki senderan pengaman.
Sebelumnya, lima unit rumah berdiri berjejer di utara jalan rabat beton. Namun, akibat gelombang tinggi yang terus terjadi dalam beberapa bulan terakhir, jalan beton itu ikut habis tergerus.
Perlahan, daratan terkikis hingga menyeret fondasi rumah-rumah warga. Akhir pekan lalu, dua rumah langsung ambruk, sementara tiga sisanya sudah miring dengan pondasi tergerus. Para pemilik rumah pun terpaksa mengungsi.
Kepala Pelaksana BPBD Jembrana, I Putu Agus Artana Putra, membenarkan kondisi tersebut. Menurutnya, abrasi kali ini merupakan kelanjutan dari bencana sebelumnya yang tak kunjung tertangani secara permanen.
“Kerusakan rumah warga Pebuahan ini akibat abrasi yang semakin parah,” jelasnya.
Ia menambahkan, sekitar sebulan lalu sudah ada lima rumah warga yang masuk kategori rusak berat.
Kini, dua rumah sudah hilang total, sedangkan tiga lainnya diperkirakan tak akan bertahan lama jika gelombang tinggi terus berulang.
“Memang sangat cepat sekali dampak abrasi. Rumah yang tersisa tinggal menunggu waktu ambruk kalau ombak tidak mereda,” ujarnya.
BPBD Jembrana sudah melakukan kaji cepat di lapangan. Gelombang tinggi yang melanda pada Rabu (27/8/2025) hingga Kamis (28/8/2025) lalu mengakibatkan kerusakan parah.
“Syukurnya para pemilik rumah sudah lama mengungsi, sehingga tidak ada korban jiwa,” ungkap Agus.
Menurutnya, solusi jangka panjang hanya bisa dilakukan dengan pembangunan senderan baru di sisi barat pantai.
“Rumah-rumah yang rusak itu posisinya berada di luar area senderan yang sudah ada. Jadi, harus dibangun senderan pengaman lagi agar abrasi tidak semakin meluas,” tegasnya.
Pihaknya juga telah melayangkan surat resmi kepada Balai Wilayah Sungai (BWS) Bali Penida agar segera turun tangan.
Selain pembangunan senderan, upaya darurat dengan menurunkan alat berat untuk menumpuk batu-batu besar juga sangat mendesak dilakukan.
Langkah tersebut diharapkan bisa menahan laju ombak agar tidak semakin menggerus daratan dan infrastruktur di sekitarnya.
Editor : Eka Prasetya