RadarBuleleng.id - Madrasah Ibtidaiyah (MI) Nurul Ikhlas di Banjar Pebuahan, Desa Banyubiru, Kecamatan Negara, Kabupaten Jembrana, Bali, kini kondisinya semakin mengkhawatirkan.
Sekolah swasta setingkat SD itu terus “dikejar” abrasi pantai. Jarak antara bangunan sekolah dan bibir pantai yang dulunya mencapai sekitar 100 meter, kini menyisakan hanya 20 meter.
Setiap gelombang tinggi datang, air laut langsung merangsek masuk ke halaman bahkan ruang belajar.
Akibatnya, kegiatan belajar mengajar menjadi tidak menentu. Pada momen ombak besar, sekolah terpaksa meliburkan siswa.
“Kalau ombak besar sekolah diliburkan, karena jalan ke sekolah nggak ada,” ujar David dan Rizky, dua siswa yang ditemui di sekolah.
Masalah terbesar bukan hanya air laut yang merendam bangunan, tetapi juga akses menuju sekolah. Saat pasang tinggi, jalan menuju MI Nurul Ikhlas tertutup air laut.
Siswa dan guru hanya punya dua pilihan: memutar lewat tambak udang di sisi belakang atau berjalan di tepi pantai sambil mempertaruhkan keselamatan.
Kepala MI Nurul Ikhlas, Nur Ainiyah mengatakan, situasi tersebut semakin parah sejak hujan deras dan banjir yang terjadi pada September lalu.
Abrasi makin menjadi-jadi, sehingga membuat sekolah semakin dekat dengan garis pantai.
“Kalau ombak besar mulai pagi, sekolah terpaksa diliburkan. Kalau ombak besar siang, pulang lebih cepat,” ujarnya.
Setiap hari pihak sekolah harus memantau cuaca dan pergerakan ombak untuk menentukan apakah kegiatan belajar dapat berlangsung.
“Demi keselamatan siswa, sekolah diliburkan kalau terjadi ombak besar,” imbuhnya.
Nur mengungkapkan, gedung yang digunakan saat ini merupakan bangunan kedua sejak sekolah berdiri pada 2007.
Bangunan pertama, yang dulunya berdiri di selatan jalan dan jauh dari pantai, kini telah hilang dilahap abrasi. Ia khawatir sejarah kelam itu terulang.
MI Nurul Ikhlas saat ini memiliki 57 orang siswa yang terus berharap dapat belajar tanpa dihantui ancaman gelombang tinggi.
Pihak sekolah berharap pemerintah memberikan penanganan serius terhadap abrasi serta menyediakan akses jalan yang aman bagi siswa dan guru.
Jika tidak segera ditangani, gedung sekolah yang kini tersisa bisa menyusul lenyap tersapu laut. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya