Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Kisruh Penyegelan di Jatiluwih Berdampak Serius, Kunjungan Wisatawan Anjlok hingga 80 Persen

Juliadi Radar Bali • Senin, 5 Januari 2026 | 07:50 WIB

 

PASANG SENG: Petani di Subak Jatiluwih memasang seng sebagai bentuk protes atas keputusan Pansus TRAP DPRD Bali.
PASANG SENG: Petani di Subak Jatiluwih memasang seng sebagai bentuk protes atas keputusan Pansus TRAP DPRD Bali.

RadarBuleleng.id - Polemik berkepanjangan antara pemerintah daerah dan masyarakat lokal terkait penyegelan sejumlah akomodasi pariwisata di kawasan Daya Tarik Wisata (DTW) Jatiluwih, Kabupaten Tabanan, Bali, mulai menunjukkan dampak serius. 

Hingga kini, belum ada titik temu atau solusi konkret atas persoalan tersebut, sementara imbasnya sudah langsung dirasakan sektor pariwisata.

Kunjungan wisatawan ke kawasan warisan budaya dunia Subak Jatiluwih yang ditetapkan UNESCO dilaporkan merosot tajam. Dampak paling terasa terjadi saat libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru).

Berdasarkan data manajemen DTW Jatiluwih, jumlah kunjungan wisatawan anjlok hingga 80 persen selama periode tersebut. 

Sepanjang 2025, total kunjungan wisatawan ke Jatiluwih tercatat sebanyak 388.872 orang. Angka ini turun signifikan dibandingkan 2024 yang mencapai 421.927 kunjungan.

Penurunan paling tajam terjadi pada Desember 2025. Pada bulan tersebut, jumlah wisatawan yang berkunjung hanya 17.682 orang. Padahal, pada Desember 2024, kunjungan masih mencapai 18.838 orang.

Manajer DTW Jatiluwih, I Ketut Jhon Purna mengatakan, polemik penyegelan yang tak kunjung selesai menjadi salah satu faktor utama merosotnya kunjungan wisatawan, terutama saat momentum libur panjang akhir tahun.

Situasi kian diperparah dengan aksi pemasangan pagar seng oleh sejumlah petani dan pelaku usaha akomodasi pariwisata di Desa Jatiluwih sejak awal Desember 2025. 

Aksi tersebut dipicu oleh penyegelan tempat usaha yang dilakukan pemerintah daerah.

“Imbasnya sangat terasa. Wisatawan asing banyak yang membatalkan kunjungan. Bahkan wisatawan Eropa, seperti dari Prancis yang selama ini menjadi pasar utama, memilih cancel (membatalkan kunjungan),” ungkap Jhon Purna.

Ia menyebutkan, dari catatan manajemen, penurunan kunjungan mencapai 80 persen, dengan penurunan paling tajam terjadi pada Desember 2025. 

Menurutnya, keberadaan pagar seng di sekitar kawasan wisata memicu salah persepsi di kalangan turis asing.

“Wisatawan mengira sedang terjadi aksi demonstrasi besar-besaran, sehingga mereka memilih tidak datang,” jelasnya.

Manajemen DTW Jatiluwih berharap pemerintah segera turun tangan dan mengambil langkah konkret untuk menyelesaikan persoalan tersebut. 

Jika dibiarkan berlarut-larut, konflik ini dikhawatirkan merusak citra pariwisata Bali dan berdampak langsung pada ekonomi masyarakat lokal.

“Pemasangan seng ini tidak dilakukan semua petani, hanya oknum. Jangan dibiarkan berlarut-larut. Harus segera diselesaikan agar tidak terus berdampak pada kunjungan wisata,” tegasnya.

Sementara itu, penurunan kunjungan wisatawan juga terjadi di DTW Ulun Danu Beratan, Kecamatan Baturiti, Tabanan. Meski demikian, penurunannya tidak sedrastis yang terjadi di Jatiluwih.

Berdasarkan data manajemen DTW Ulun Danu Beratan, jumlah kunjungan wisatawan pada 2024 mencapai 600.621 orang. Sementara pada 2025, angka kunjungan tercatat sebanyak 506.908 orang. Artinya, terjadi penurunan sekitar 18 persen atau setara 93.713 wisatawan.

Humas DTW Ulun Danu Beratan, I Made Suteja, menyebutkan penurunan kunjungan tersebut dipengaruhi sejumlah faktor. Mulai dari kondisi cuaca ekstrem hingga berbagai persoalan di Bali, seperti bencana alam dan isu sampah.

“Kalau penurunan paling banyak dari wisatawan domestik. Untuk wisatawan mancanegara sejauh ini masih relatif stabil,” katanya. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

Editor : Eka Prasetya
#bali #tahun baru #eropa #libur #pemerintah #daya tarik wisata #libur panjang #polemik #natal #petani #unesco #turis #Jatiluwih #pariwisata #subak #masyarakat #wisatawan #cancel cewek #nataru