RadarBuleleng.id - Penutupan TPA Sente di Desa Pikat sejak 31 Januari lalu ternyata memunculkan persoalan baru.
Belasan desa di Kabupaten Klungkung yang sebelumnya membuang residu ke TPA tersebut kini mengalihkan pembuangan ke TOSS Center di Desa Kusamba sejak 1 Februari. Namun, lonjakan volume residu justru memicu dampak lingkungan serius.
Tumpukan sampah residu di TOSS Center mengeluarkan bau busuk menyengat hingga ke pemukiman warga.
Lebih parah lagi, air lindi yang merembes dari gunungan sampah diduga menyerap ke dalam tanah dan mencemari sumur warga sekitar.
Padahal, saat TOSS Center dibangun, masyarakat dijanjikan aktivitas pengolahan sampah tidak akan mencemari lingkungan maupun mengganggu kenyamanan warga.
Melihat situasi kian meresahkan, Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Pertanahan Klungkung, Dewa Komang Aswin, memutuskan menghentikan sementara pengiriman residu dari desa-desa.
Sedikitnya 15 desa telah disurati agar tidak lagi membuang residu ke TOSS Center untuk sementara waktu. Biasanya, pengiriman dilakukan dua kali sepekan, setiap Senin dan Kamis.
“Untuk sementara kami hentikan dulu sampai kerja sama dengan pihak ketiga bisa direalisasikan. Kami memahami kesulitan para perbekel, tetapi daya tampung TOSS sangat terbatas dan residu belum bisa diolah, apalagi setelah TPA Sente ditutup,” ujarnya.
Saat ini, rata-rata sampah yang masuk ke TOSS Center mencapai sekitar 40 ton per hari.
Selama ini, fasilitas tersebut memang mengelola sampah warga perkotaan dan beberapa desa sekitar.
Masalahnya, pemilahan sampah dari sumber belum maksimal. Ditambah lagi, sarana dan prasarana pengolahan dinilai belum mampu menangani lonjakan volume secara menyeluruh.
Sebagai solusi, Pemkab Klungkung berencana menggandeng pihak ketiga untuk menambah kapasitas pengolahan.
Nantinya, rekanan akan menyediakan mesin, tenaga, dan operasional, sementara pengangkutan sampah tetap dilakukan pemerintah daerah. Skema kerja sama akan berbasis volume sampah yang berhasil diolah.
Di sisi lain, sejumlah perbekel mengaku kebingungan. Dalam grup WhatsApp beberapa kepala desa menyampaikan keresahan karena tidak memiliki lokasi alternatif untuk membuang residu.
Mereka pun meminta solusi konkret dari Bupati dan Wakil Bupati Klungkung agar persoalan sampah ini tidak semakin berdampak pada lingkungan dan kesehatan masyarakat. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya