Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Menembus Gelap dengan Kanvas, Pelukis Tunanetra Asal Tabanan Bali Pamer Karya

Juliadi Radar Bali • Selasa, 17 Februari 2026 | 18:17 WIB

 

TETAP BERKARYA: Made Wahyu Senayadi, pelukis tunanetra asal Kabupaten Tabanan, Bali, berfoto di hadapan karyanya.
TETAP BERKARYA: Made Wahyu Senayadi, pelukis tunanetra asal Kabupaten Tabanan, Bali, berfoto di hadapan karyanya.

RadarBuleleng.id - Keterbatasan penglihatan tidak menjadi penghalang bagi Made Wahyu Senayadi untuk terus berkarya. 

Pria 40 tahun asal Belayu, Kecamatan Marga, Kabupaten Tabanan, Bali, itu justru menjadikan seni lukis sebagai ruang ekspresi, terapi, sekaligus jalan hidup yang menuntunnya menembus gelap.

Sejak kecil, Senayadi memang tidak dapat melihat. Namun, tumbuh di lingkungan keluarga perajin seni ukir membuat naluri seninya terasah sejak dini. 

Ketekunannya itu kini berbuah manis. Sebanyak tiga karya lukisannya dipamerkan dalam ajang Semburat Bali di Labyrinth Art Gallery, Nuanu Creative City, Banjar Nyanyi, Desa Beraban, Kecamatan Kediri, Tabanan.

Lulusan Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar tahun 2012 itu menampilkan tiga karya bertema besar Spirit Gotong Royong Kehidupan Masyarakat Lokal Bali. Pameran tersebut berlangsung mulai 7 Februari hingga 22 Maret 2026.

“Dari kecil memang saya suka melukis, apalagi lahir di lingkungan seni ukir,” ujar Senayadi saat ditemui di Labyrinth Art Gallery, belum lama ini.

Bakat melukisnya semakin berkembang sejak menempuh pendidikan di ISI Denpasar pada 2005. Meski memiliki keterbatasan fisik sebagai tunanetra, semangatnya untuk berkarya justru kian kuat. 

Sejumlah pameran telah diikutinya, tidak hanya di Bali dan Indonesia, tetapi juga hingga ke mancanegara.

Pada 2025 lalu, Senayadi bahkan sempat mengikuti pameran seni lukis di San Francisco, California, Amerika Serikat. Kini, ia kembali mempersembahkan karyanya kepada publik melalui pameran Semburat Bali di Nuanu.

Salah satu lukisan unggulannya berjudul Spirit Gotong Royong. Karya itu digarap selama empat bulan. 

Karya tersebut merepresentasikan nilai kebersamaan masyarakat Bali melalui rangkaian simbol budaya, seperti prosesi ngaben, ritual memandikan jenazah, hingga Tari Jauk Bali.

Menurut Senayadi, gotong royong merupakan roh kehidupan masyarakat Bali. Manusia, kata dia, tidak pernah benar-benar hidup sendiri, bahkan hingga akhir hayat.

“Begitu juga saya. Dengan keterbatasan penglihatan, saya tetap membutuhkan bantuan orang lain. Di situlah makna kebersamaan,” tuturnya.

Dalam proses berkarya, Senayadi mengandalkan perasaan, imajinasi, serta kepekaan sentuhan. Setiap goresan kuas dilakukan dengan menghidupkan dunia dalam pikirannya. Tekstur dan rasa menjadi elemen utama, bukan semata warna dan bentuk.

Tantangan sebagai pelukis tunanetra tentu tidak ringan. Selain tidak dapat melihat hasil akhir karyanya, ia juga harus bersaing dengan pelukis lain yang memiliki kondisi fisik sempurna. Namun, kepuasan justru ia temukan dalam proses berkarya itu sendiri.

“Meski tak bisa melihat dengan mata, kami bisa melihat dengan hati. Saya ingin menyampaikan pesan kepada penyandang disabilitas lainnya, keterbatasan bukan alasan untuk berhenti berjuang dan berkarya,” ucapnya. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

Editor : Eka Prasetya
#bali #Perajin #Nuanu Creative City #tunanetra #Seni lukis #ISI Denpasar #seni ukir #seni #karya #tabanan #marga #ISI #Mancanegara #melukis