Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Mangrove Tahura Ngurah Rai Mati Massal, Diduga Tercemar Kebocoran Minyak

Ni Kadek Novi Febriani • Kamis, 26 Februari 2026 | 14:42 WIB

MERANGGAS: Pohon mangrove yang meranggas di kawasan Tahura Ngurah Rai.
MERANGGAS: Pohon mangrove yang meranggas di kawasan Tahura Ngurah Rai.
 

RadarBuleleng.id - Ratusan pohon mangrove yang didominasi bakau (Rhizophora) di kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Ngurah Rai dilaporkan mati dan mengering. 

Lokasi terdampak berada di areal Pelindo Benoa, sekitar pintu masuk Tol Bali Mandara, Denpasar Selatan.

Kematian mangrove di Benoa ini memicu kekhawatiran karena kawasan tersebut merupakan bagian penting dari ekosistem pesisir Bali. 

Dugaan sementara mengarah pada aktivitas pemasangan pipa jalur distribusi dari Pelabuhan Benoa menuju Pangkalan Pertamina Pesanggaran sehingga memicu kebocoran minyak. 

Tanaman diduga terpapar bahan bakar minyak (hidrokarbon) yang mengandung senyawa logam berat.

Tim peneliti dari Fakultas Pertanian Universitas Udayana yang dikoordinatori Dewa Gede Wiryangga Selangga telah melakukan pemeriksaan langsung di lapangan.

Hasil diagnosis awal menunjukkan gejala serius pada tanaman, seperti daun menguning lalu berubah kecokelatan, kulit batang mengelupas, pertumbuhan kerdil, akar menghitam dan membusuk, hingga penebalan daun.

“Tidak ditemukan indikasi infeksi patogen atau parasit. Kematian mangrove lebih mengarah pada faktor abiotik, salah satunya dugaan paparan logam berat dari senyawa hidrokarbon,” jelasnya.

Dugaan kontaminasi ini dikaitkan dengan kegiatan perbaikan dan perawatan pipa yang berlangsung pada September hingga November 2025. 

Namun sebelumnya, pihak Pertamina Patra Niaga menyatakan tidak menemukan lapisan minyak di permukaan air saat pemeriksaan visual pada 21 Februari 2026.

Sejumlah ahli ekologi menjelaskan bahwa pencemaran hidrokarbon dalam ekosistem mangrove tidak selalu tampak secara kasat mata. 

Minyak dapat terperangkap di pori-pori tanah dan mengendap di area perakaran (rhizosfer), sehingga mengganggu sistem pernapasan akar dan menyebabkan tanaman mati secara perlahan.

Perbedaan antara hasil inspeksi visual dan temuan gejala di lapangan mendorong dilakukannya investigasi forensik lingkungan. 

Untuk memastikan ada tidaknya kandungan hidrokarbon di area perakaran, tim peneliti melakukan analisis menggunakan metode GC-MS (Gas Chromatography–Mass Spectrometry). “Hasil uji laboratorium dijadwalkan keluar Kamis (26/2),” lanjutnya.

Selain itu, analisis DNA air juga dilakukan guna mendeteksi kemungkinan kontaminan kimia di perairan sekitar mangrove. 

Hasil laboratorium diharapkan mampu mengungkap jenis dan kadar senyawa hidrokarbon yang terakumulasi.

Kematian mangrove di Tahura Ngurah Rai dinilai berdampak serius terhadap lingkungan pesisir. Mangrove berfungsi sebagai benteng alami penahan abrasi, habitat biota laut, penyerap karbon, sekaligus penghasil oksigen.

Menurut Wiryangga, pemulihan ekosistem mangrove membutuhkan waktu panjang. Untuk mengembalikan fungsi ekologisnya saja diperlukan lima hingga tujuh tahun, sementara pohon mangrove baru mencapai kematangan dalam kurun 10 hingga 20 tahun.

“Pemulihan bukan sekadar menanam bibit baru, tetapi membangun kembali keseimbangan ekosistem pesisir secara menyeluruh. Jika kerusakan meluas, prosesnya akan jauh lebih lama,” tegasnya.

Melalui siaran pers tertanggal 21 Februari 2026, Pertamina Patra Niaga menyatakan telah melakukan pengecekan bersama Polairud di sekitar Terminal BBM Sanggaran. 

Area Manager Communication, Relations & CSR Jatimbalinus, Ahad, menyebut tidak ditemukan lapisan minyak maupun bau menyengat BBM di lokasi.

Pihaknya juga mengikuti rapat koordinasi yang difasilitasi Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup (DKLH) Bali dan berkomitmen melakukan penelusuran operasional, khususnya terkait pekerjaan pipanisasi di kawasan Benoa. Investigasi lanjutan termasuk pengecekan ekosistem terdampak disebut masih berlangsung.

Kasus ini mencuat setelah mendapat sorotan anggota DPR RI, I Nyoman Parta. Ia mengaku terkejut melihat banyaknya mangrove yang mati saat melintas di Tol Bali Mandara sepulang dari Jakarta.

Sebagai anggota Komisi III DPR RI, ia kemudian melakukan peninjauan langsung dari darat maupun laut menggunakan perahu nelayan. 

Dari hasil pengamatannya, ratusan mangrove jenis Sonneratia alba, Rhizophora apiculata, dan Avicennia marina ditemukan mati secara bersamaan. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

Editor : Eka Prasetya
#peneliti #tahura #tol bali mandara #pesisir #bahan bakar minyak #pertamina patra niaga #pesanggaran #pertanian #ngurah rai #benoa #minyak #pelindo #pelabuhan benoa #bakau #mangrove #pertamina #universitas udayana