RadarBuleleng.id – Provinsi Bali saat ini tengah memasuki musim kemarau. Namun masyarakat belakangan merasakan suhu udara yang lebih dingin dibandingkan biasanya.
Pada malam hingga pagi hari, suhu di sejumlah wilayah bahkan berada di kisaran 19 hingga 24 derajat celcius.
Fenomena udara dingin tersebut ternyata bukan hal yang tidak biasa. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menjelaskan kondisi ini memang lazim terjadi menjelang puncak musim kemarau yang umumnya berlangsung pada Juni hingga Agustus.
Prakirawan Cuaca BMKG, Luh Eka Arisanti, mengatakan data dari Automatic Weather Station (AWS) menunjukkan suhu udara minimum di Bali mengalami penurunan dalam beberapa hari terakhir.
Berdasarkan pengamatan selama dua hari terakhir, suhu terendah tercatat di AWS Kintamani yang mencapai 13,51 derajat celcius pada pukul 05.00 WITA.
Sementara itu, wilayah pesisir Bali masih mencatat suhu minimum pada kisaran 19 hingga 24 derajat celcius.
Meski tidak ekstrem seperti di daerah dataran tinggi, suhu tersebut tetap terasa lebih sejuk dibandingkan kondisi normal.
Menurut Eka, penurunan suhu udara dipengaruhi beberapa faktor atmosfer, salah satunya gerak semu tahunan matahari.
Saat ini posisi matahari berada di Belahan Bumi Utara (BBU). Sehingga wilayah Indonesia yang berada di selatan garis khatulistiwa, termasuk Bali, mengalami berkurangnya intensitas penyinaran matahari.
Selain itu, fenomena ini juga diperkuat oleh aktifnya Monsun Australia. Pada periode yang sama, Benua Australia sedang mengalami musim dingin dengan tekanan udara relatif tinggi.
"Hal ini memicu pergerakan massa udara yang bersifat dingin dan kering dari Australia menuju Indonesia melewati wilayah Bali," terang Eka.
Tak hanya itu, kondisi langit yang cenderung cerah dan minim tutupan awan turut memperkuat sensasi dingin yang dirasakan masyarakat.
Pada malam hari, panas yang tersimpan di permukaan bumi lebih mudah terlepas ke atmosfer karena tidak tertahan oleh lapisan awan.
"Sehingga suhu udara di dekat permukaan bumi terasa jauh lebih dingin, khususnya sejak malam hari hingga pagi," tandasnya.
BMKG memperkirakan kondisi udara dingin seperti ini masih berpotensi terjadi selama periode puncak musim kemarau berlangsung.
Masyarakat, terutama yang berada di wilayah dataran tinggi seperti Kintamani dan sekitarnya, diimbau untuk menyesuaikan aktivitas serta menjaga kondisi tubuh agar tetap fit saat suhu udara menurun. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya