Ada 5 Ribu Balian di Bali, Gotra Pengusada Buka Layanan 'Tarot' Wariga

Ni Kadek Novi Febriani • Dipublikasikan Sabtu, 22 Agustus 2026 | 06:28 WIB
PERLU PENDATAAN BALIAN: Ketua Umum DPP Gotra Pengusada Bali, Prof. Putu Suta Sadnyana. (Ni Kadek Novi Febriani/Radar Bali)
PERLU PENDATAAN BALIAN: Ketua Umum DPP Gotra Pengusada Bali, Prof. Putu Suta Sadnyana. (Ni Kadek Novi Febriani/Radar Bali)

 

RadarBuleleng.id – Praktik pengobatan tradisional atau balian di Bali terus berkembang pesat seiring tingginya minat masyarakat terhadap metode penyembuhan alternatif. 

Gotra Pengusada Bali atau Asosiasi Penyehat Tradisional Bali, mencatat sedikitnya ada 5 ribu praktisi penyehat tradisional yang terdata sejak 2015 dan jumlahnya diperkirakan terus bertambah.

Hal tersebut diungkapkan oleh Ketua Umum DPP Gotra Pengusada Bali, Prof. Putu Suta Sadnyana, usai pengukuhan Pengurus Gotra Pengusada Bali Masa Bakti 2026-2031 di Gedung Wiswa Sabha Utama, Kantor Gubernur Bali, Kamis (20/8/2026).

Suta mengakui, validasi data ribuan balian di seluruh kabupaten/kota di Bali masih menjadi tantangan utama organisasi lantaran keterbatasan struktur hingga tingkat bawah.

"Tantangan pendataan. Kalau bisa dibantu oleh puskesmas sayangnya kami tak punya struktur. Kendala pendataan yang sedapat mungkin mendaftarkan diri sebagai anggota supaya kami punya data yang valid," kata Suta.

Selain masalah administrasi, pembenahan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) dan pembuktian secara ilmiah berdasarkan riset standar menjadi pekerjaan rumah bersama. 

Akademisi ini menegaskan bahwa keilmuan penyehat tradisional tidak hanya mengandalkan aspek kepercayaan semata, tetapi juga regulasi baku.

"Kedepannya kami akan meningkatkan SDM dan publikasi ke masyarakat supaya dilestarikan. Ini profesi yang baik karena jika sudah menjadi pengobatan tradisional Bali bisa buka praktik karena Gotra Pangusada Bali punya wewenang mengeluarkan STPT (Surat Terdaftar Penyehat Tradisional)," beber Suta.

Pihaknya memastikan verifikasi metode hingga aspek norma sosial-keagamaan diperiksa secara ketat sebelum menerbitkan rekomendasi STPT bagi setiap penyehat.

Suta menguraikan, praktik pengobatan tradisional Bali berbasis Usada dan Tutur terbagi dalam lima kategori besar, yaitu Taru Pramana yang memanfaatkan tanaman herbal, Sato Pramana menggunakan olahan satwa seperti minyak ikan.

Ada pula Mustika Pramana lewat terapi batu permata berkhasiat, Bayu Pramana dengan pemanfaatan tenaga jasmani seperti pijat, serta Jiwa Pramana untuk penyembuhan tenaga batin dan spiritual, salah satunya lewat ritual melukat.

Ia menambahkan, ritual melukat kini kian digandrungi wisatawan domestik maupun mancanegara sebagai bagian dari terapi kebugaran (Bali Wellness).

"Kalau pengobatan tradisional di Bali berdasarkan tradisi, bukan berarti orang non-Hindu masuk agama Hindu, hanya memanfaatkan pengobatan terapi itu atau belajar. Itu belajar pengetahuan," jelasnya.

Uniknya, Gotra Pengusada Bali juga mengidentifikasi adanya metode deteksi penyakit menggunakan media kartu yang mirip dengan tarot, namun berpatokan penuh pada ilmu astronomi tradisional Bali (wariga) dan konsep pemetaan cakra.

"Kami ingin tahu seseorang sakitnya apa dengan menggunakan kartu memohon dewa pengobatan. Kami lihat kalau 7 cakra di antara 7 cakra dibuka itu. Dan nanti dikombinasi, baru kemudian dapat ditentukan pengobatan, seperti totok darah," tuturnya.

Melalui integrasi antara perawatan tradisional, terapi relaksasi spa, hingga penyembuhan spiritual, Suta berharap Bali Wellness menjadi pilar utama kebugaran yang terpercaya dan dapat dinikmati publik tanpa harus menunggu kondisi sakit. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

 

Editor : Eka Prasetya
Sumber : Radar Bali
Balian Bali Pengobatan Tradisional Bali Gotra Pengusada Bali Tarot Wariga Bali melukat