15 Tahun Mengaspal, Transportasi Publik di Bali Dinilai Stagnan

Ni Kadek Novi Febriani • Dipublikasikan Jumat, 28 Agustus 2026 | 15:51 WIB
MAKIN TERPINGGIRKAN: Armada bus Trans Sarbagita saat terparkir di GOR Ngurah Rai pada Minggu (11/1/2026).
MAKIN TERPINGGIRKAN: Armada bus Trans Sarbagita saat terparkir di GOR Ngurah Rai pada Minggu (11/1/2026).

 

RadarBuleleng.id – Perkembangan transportasi umum di Pulau Dewata mendapat sorotan tajam lantaran dinilai mengalami stunting. 

Anggapan itu muncul lantaran transportasi publik hanya lahir, namun tak kunjung tumbuh.

Sejak bus Trans Sarbagita diluncurkan 15 tahun lalu pada masa kepemimpinan Gubernur Mangku Pastika, hingga kini tidak ada perluasan koridor maupun trayek yang signifikan.

Kritik tersebut mengemuka dalam diskusi publik bertajuk “Bali Bicara: Masa Depan Transportasi Publik Bali” yang digelar WRI Indonesia bekerja sama dengan Universitas Warmadewa di Kampus Unwar Denpasar, Rabu (27/8/2026).

Ketua Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Bali, I Made Rai Ridartha, menyayangkan kurang masifnya pengembangan rute angkutan massal. 

Ia mencontohkan kawasan pendidikan sebesar Universitas Warmadewa hingga kini belum tersentuh rute Trans Metro Dewata maupun Trans Sarbagita, padahal potensi penumpangnya sangat besar.

"Idealnya setelah 20 tahun berjalan, Bali sudah memiliki 34 trayek transportasi umum. Soal angkutan publik, kita harus bersuara lebih lantang ke pemerintah pusat agar Bali mendapat perhatian khusus," sentil Rai Ridartha.

Menanggapi hal itu, Anggota Komisi V DPR RI, Irene Yuslana Roba Putri, menegaskan penyediaan angkutan umum adalah bentuk keadilan sosial yang tidak boleh dihentikan.

"Layanan ini adalah keharusan. Postur anggaran dan subsidi harus berpihak, tidak ada istilah mundur," tegas politisi PDI Perjuangan tersebut.

Sementara itu, Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Bali, I Kadek Mudarta, mengakui bahwa jangkauan angkutan umum saat ini baru mengover sekitar 10 persen wilayah metropolitan Sarbagita (Denpasar, Badung, Gianyar, Tabanan).

Mudarta menekankan bahwa memperbanyak pembangunan jalan baru tanpa membenahi transportasi massal hanya akan memindahkan titik kemacetan di masa depan. 

Sebagai solusi percepatan konektivitas, Dishub Bali berencana mengoperasikan armada pengumpan (feeder) berukuran lebih kecil.

"Saat ini tulang punggung bus utamanya sudah ada. Untuk menjangkau kawasan pemukiman dan mendekatkan layanan ke masyarakat, kita perlu menambah kendaraan feeder sebagai penghubung," jelas Mudarta. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

 

Editor : Eka Prasetya
Sumber : Radar Bali
Transportasi Publik Bali Dishub Bali Kemacetan Bali Trans Metro Dewata trans sarbagita