Kekeringan Parah Terjang Jembrana. Batang Padi Kini jadi Pakan Ternak

Muhammad Basir • Dipublikasikan Minggu, 6 September 2026 | 11:27 WIB
GAGAL PANEN: Petani di Kabupaten Jembrana, Bali, memotong padi mereka untuk dijadikan pakan ternak. Padi gagal tumbuh karena tidak mendapatkan air. (M. Basir/Radar Bali)
GAGAL PANEN: Petani di Kabupaten Jembrana, Bali, memotong padi mereka untuk dijadikan pakan ternak. Padi gagal tumbuh karena tidak mendapatkan air. (M. Basir/Radar Bali)

 

RadarBuleleng.id – Musim kemarau panjang mulai memukul telak sektor pertanian di Kabupaten Jembrana, Bali. 

Krisis air yang meluas membuat puluhan hektare tanaman padi yang semestinya dipanen dalam waktu dekat malah mengering di sawah. 

Tak ingin rugi total, sebagian petani terpaksa membabat tanaman padi yang gagal panen untuk dijadikan pakan ternak.

Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Jembrana mencatat, bencana kekeringan kini telah merambah 138,3 hektare lahan pertanian yang tersebar di lima kecamatan, yakni Negara, Jembrana, Melaya, Mendoyo, dan Pekutatan. 

Dari total area tersebut, seluas 47,1 hektare di antaranya resmi dinyatakan puso.

Plt. Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Jembrana, I Putu Eka Arta, mengungkapkan bahwa tingkat kerusakan tanaman bervariasi mulai dari kategori ringan hingga berat. Tanaman padi menjadi komoditas paling rentan yang terdampak kemarau.

"Dari total 138,3 hektare yang terdampak kekeringan, seluas 11 hektare berhasil pulih setelah kami intervensi. Namun, seluas 47,1 hektare tidak bisa diselamatkan dan dinyatakan puso," terang I Putu Eka Arta, Minggu (6/9/2026).

Ancaman kekeringan tidak hanya melahap tanaman padi, tetapi juga mulai merembet ke komoditas jagung. 

Di Kecamatan Pekutatan, setidaknya 4 hektare tanaman jagung di Subak Air Satang, Desa Medewi, serta 1 hektare di Subak Pangkung Serangsang, Desa Gumbrih, dilaporkan mengering.

Guna mencegah kerusakan kian meluas, Dinas Pertanian bekerjasama dengan instansi terkait untuk menyelamatkan sisa 125,85 hektare lahan yang masih berpotensi bertahan. 

Langkah darurat yang ditempuh yakni memaksimalkan pompa sumur bor serta memberlakukan sistem giliran air secara ketat di tingkat subak.

Meski demikian, Eka Arta mengakui upaya penyelamatan di lapangan masih terbentur keterbatasan debit air tanah. 

Fasilitas sumur bor yang ada belum sanggup menangani seluruh areal persawahan yang mendadak kering kerontang.

"Solusi utama di lapangan adalah pergiliran air dan memaksimalkan sumur bor. Namun kendala utamanya, debit air tidak mencukupi untuk mengairi keseluruhan wilayah. Akibatnya, beberapa areal padi tidak tumbuh maksimal, bulirnya tidak berkembang, dan akhirnya puso," tandasnya. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

 

Editor : Eka Prasetya
Sumber : Radar Bali
Berita Bali Hari Ini Kekeringan Jembrana Dinas Pertanian Jembrana Padi Puso Krisis Air Bali