RadarBuleleng.id – Alih fungsi lahan pertanian di Bali kian memprihatinkan.
Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Bali mencatat, setidaknya seluas 1.125 hektare lahan pertanian produktif tergerus setiap tahunnya akibat ekspansi masif sektor pariwisata yang tak terkendali.
Direktur WALHI Bali, Anak Agung Gede Surya Sentana, mengungkapkan keprihatinannya di tengah momen Hari Keadilan Ekologis yang jatuh pada 20 September.
Menurutnya, konsep keadilan ekologis di Indonesia—khususnya di Pulau Bali—masih sebatas angan-angan akibat buruknya tata kelola lingkungan dan pariwisata.
Dampak dari tata kelola yang rapuh ini memicu fenomena overtourism (pariwisata massal) yang tidak hanya menggusur lahan hijau, tetapi juga memicu krisis air bersih serta ledakan volume sampah.
"Sektor pariwisata saat ini membebani daya dukung lingkungan Bali secara luar biasa. Mengutip penelitian dari ahli, mayoritas hotel di Bali masih sangat bergantung pada penyedotan air tanah. Bayangkan, hotel berbintang membutuhkan pasokan air minimal 800 liter per kamar setiap harinya," tegas Surya Sentana, Selasa (22/9/2026).
Sementara untuk hotel non-bintang, konsumsi air diperkirakan mencapai 250 liter per kamar per hari.
Tingginya ketergantungan pada air tanah ini dinilai menjadi ancaman serius bagi keberlanjutan krisis air bersih warga Bali di masa depan.
Tak hanya krisis air dan penggalangan lahan, porsi sampah dari industri pelesiran ini juga makin mengkhawatirkan.
Mengutip data Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), WALHI membeberkan bahwa sektor pariwisata menyumbang porsi sampah yang sangat signifikan di Bali.
Timbulan sampah tersebut berasal dari aktivitas wisatawan, operasional hotel, restoran, kafe, pengelola kawasan wisata, hingga perawatan lanskap.
Mirisnya, lebih dari separuh total sampah di Pulau Dewata menumpuk di empat kawasan utama pusat pariwisata: Kabupaten Badung, Denpasar, Gianyar, dan Tabanan (Sarbagita).
Melihat kondisi yang kian mengkhawatirkan ini, WALHI Bali mendesak pemerintah daerah segera mengevaluasi total kebijakan pariwisata agar tidak berujung pada bencana lingkungan bagi masyarakat lokal. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya
Sumber : Radar Bali