Uji Kesiapan Kondisi Darurat, Bandara Ngurah Rai Gelar Simulasi Pesawat Jatuh dan Ancaman Bom

I Wayan Widyantara • Dipublikasikan Jumat, 25 September 2026 | 06:28 WIB
SIMULASI: Simulasi penanganan kedaruratan di kawasan Bandara Ngurah Rai. (Ngurah Rai Airport)
SIMULASI: Simulasi penanganan kedaruratan di kawasan Bandara Ngurah Rai. (Ngurah Rai Airport)

 

RadarBuleleng.id – Kepulan asap dan bayangan kepanikan kecelakaan pesawat berpenumpang ratusan orang mewarnai Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai Bali pada Rabu (23/9/2026). 

Sebanyak 350 penumpang dan awak pesawat disimulasikan menjadi korban setelah pesawat Boeing 777-200ER mengalami kecelakaan tragis sesaat setelah mendarat hingga terbakar hebat di landasan pacu.

Skenario menegangkan tersebut merupakan bagian dari Airport Emergency Exercise (AEE) atau latihan keadaan darurat skala penuh yang digelar PT Angkasa Pura Indonesia (InJourney Airports) Kantor Cabang Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai.

Dalam simulasi ini, pesawat Angkasa Air nomor penerbangan AA239 diskenariokan mengalami musibah usai melakukan touchdown. 

Begitu laporan diterima dari menara AirNav Indonesia, personel Airport Rescue & Fire Fighting (ARFF) langsung bergerak cepat ke lokasi untuk memadamkan kobaran api serta mengevakuasi ratusan penumpang.

Dari total 350 orang di dalam pesawat, simulasi mencatat 187 orang selamat, 143 orang mengalami luka-luka, dan 20 orang dinyatakan meninggal dunia dalam insiden darurat tersebut.

General Manager InJourney Airports Bandara Ngurah Rai, Nugroho Jati, menegaskan bahwa latihan ini bertujuan menguji dan menyelaraskan fungsi koordinasi, komunikasi, serta komando antar-instansi komunitas bandara saat menghadapi situasi krisis nyata.

”Dalam Airport Emergency Exercise ini, fungsi koordinasi, komunikasi, dan komando antar unit dan instansi komunitas bandara diuji,” ujar Nugroho Jati, Rabu (23/9/2026).

Penanganan darurat tidak hanya berfokus pada evakuasi korban di lapangan, melainkan melibatkan lintas instansi seperti Otoritas Bandara, AirNav Indonesia, KNKT, Imigrasi, Bea Cukai, Balai Besar Kekarantinaan Kesehatan, ground handling, maskapai, TNI AU, kepolisian, tim medis rumah sakit, hingga dinas pemadam kebakaran.

Latihan skala besar ini tidak sekadar menguji skenario kecelakaan pesawat di runway. 

Sebelumnya, para petugas juga diuji merespons simulasi kebakaran gedung Hotel Novotel di area bandara akibat gempa bumi berkekuatan 5,9 SR yang memicu korsleting di dapur hotel.

Tak berhenti di situ, aspek keamanan bandara turut diuji melalui skenario penyusupan bom rakitan. 

Dalam skenario ini, seorang petugas kebersihan yang disusupi kelompok pembuat onar membawa ransel berisi bom menuju ruang tunggu keberangkatan General Aviation Terminal (GAT), sebelum akhirnya berhasil terdeteksi mesin X-Ray dan dijinakkan tim gabungan.

Nugroho menambahkan, rangkaian simulasi ini menjadi instrumen penting untuk merevisi dan menguji dokumen penanganan darurat, seperti Airport Emergency Plan (AEP), Airport Security Programme (ASP), serta Airport Disaster Management Plan (ADMP).

Sebagai gerbang udara utama Bali yang melayani hingga 24 juta penumpang dan 140 ribu pergerakan pesawat per tahun, mitigasi risiko menurutnya adalah harga mati demi menjamin keselamatan pengguna jasa penerbangan.

”Tujuan kami untuk memperkuat jalur koordinasi dan komunikasi jika terjadi kondisi darurat yang sebenarnya,” pungkas Nugroho. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

Editor : Eka Prasetya
Sumber : Radar Bali
Berita Bali Hari Ini InJourney Airports Simulasi Kecelakaan Pesawat Keselamatan Penerbangan bandara ngurah rai