RadarBuleleng.id – Kawasan Daya Tarik Wisata (DTW) Ulun Danu Beratan, Bedugul, Tabanan tak sekadar menyajikan panorama danau yang megah.
Di tepian danau yang tersohor itu, hadir pula buah karya seniman lokal yang menyajikan kenangan tak terlupakan bagi para wisatawan.
Adalah Putu Budi Setiawan, 54, warga Banjar Dinas Kembang Merta, Desa Candikuning, Baturiti, yang setiap harinya setia menawarkan jasa lukis sketsa wajah (portrait) bagi pengunjung yang melintas.
Hanya berbekal pensil matograf, kertas drawing pad ukuran 75x55 cm, serta alat lukis sederhana, pria paruh baya ini mampu menyihir para pelancong mancanegara untuk bersedia duduk manis dilukis.
Yang paling fenomenal dari Budi adalah kecepatan tangannya. Ia mampu menuntaskan satu karya sketsa wajah dalam waktu 10 menit, bahkan rekor tercepatnya hanya membutuhkan waktu 7 menit!
”Saya janjikan ke wisatawan 10 menit selesai, paling cepat bisa 7 menit. Karena turis kan mengejar waktu tour ke objek wisata lain, jadi tidak bisa disuruh duduk terlalu lama,” tutur Budi saat ditemui di DTW Ulun Danu Beratan, Minggu (4/10/2026).
Kepiawaiannya menuntaskan sketsa kilat ini bahkan pernah diuji langsung oleh seorang pelukis asal Perancis yang penasaran.
Hasilnya, Budi membuktikan janjinya dan membuat seniman mancanegara tersebut berdecak kagum.
Budi mengaku kemampuan melukisnya murni mengalir secara otodidak sejak duduk di bangku Sekolah Dasar (SD).
Kala itu, ia hobi meniru gambar foto-foto pahlawan nasional yang terpajang di ruang kelas.
”Artinya semua berasal dari hobi melukis yang berlanjut sampai SMA. Saya bukan sarjana seni atau lulusan kampus seni,” ungkapnya jujur.
Peluang bisnis ini mulai ia geluti pada tahun 2003 silam sewaktu ia belum memiliki pekerjaan tetap.
Terinspirasi dari pelukis asal Sumatera yang menjajakan karya di Bedugul, Budi memberanikan diri membuka jasa sketsa wajah live khusus bagi para pelancong.
Menurut Budi, tantangan melukis wajah jauh lebih rumit ketimbang pemandangan alam. Ia harus mampu menangkap karakter anatomi wajah yang berbeda-beda—baik bulat, lonjong, hingga kotak—sekaligus membaca ekspresi emosi wisatawan saat dilukis.
”Melukis wajah tidak boleh asal atau diubah, harus benar-benar mirip agar pemesan tidak komplain,” jelas Budi.
Sejak 2003 hingga kini, Budi rata-rata melayani 4 hingga 5 orang pengunjung per hari yang didominasi wisatawan asing.
Pada masa keemasannya di rentang tahun 2007–2010, ia bahkan sanggup menggambar hingga 30 orang turis dalam sehari.
Satu lembar karya sketsa wajah unik ini dihargai cukup ramah kantong, yakni berkisar antara Rp 100 ribu hingga Rp150 ribu.
Kendati demikian, tantangan terberat usahanya adalah faktor cuaca kawasan Bedugul yang acap kali diguyur hujan deras dan angin kencang.
Bagi Budi, lembaran sketsa buatan tangannya bukan sekadar bisnis mencari nafkah semata, melainkan suvenir hidup yang berkesan.
”Karya sketsa ini adalah kenangan abadi. Setiap kali melihat lukisan itu di rumahnya, mereka akan selalu ingat pernah duduk dan dilukis di pinggir Danau Beratan Bali,” pungkasnya. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya
Sumber : Radar Bali