SINGARAJA, RadarBuleleng.id – Dinas Komunikasi Informatika, Persandian, dan Statistik (Kominfosanti) Kabupaten Buleleng tengah merancang smart garden.
Sistem smart garden itu kini tengah diuji di areal kebun yang dikelola Dinas Kominfosanti Buleleng. Tepatnya di depan gedung Buleleng Command Centre (BCC).
Untuk tahap awal smart garden baru dirancang untuk penyiraman taman saja. Pola penyiraman itu dapat digunakan dengan sistem fogging maupun irigasi tetes.
Kepala Dinas Kominfosanti Buleleng, Ketut Suwarmawan mengatakan, sistem itu baru dalam taraf uji coba skala kecil.
“Saat ini baru kami gunakan skala kecil untuk kebun yang dikelola kominfosanti,” kata Suwarmawan saat ditemui Senin (22/1/2024).
Menurut Suwarmawan ide smart garden sebenarnya sederhana saja. Pihaknya sebagai dinas pengampu teknologi informasi, tentu harus melakukan adaptasi dalam sejumlah hal. Salah satunya dalam hal penataan lingkungan.
Dijelaskan, smart garden pada tahap awal baru diaplikasikan dalam hal penyiraman tanaman secara otomatis. Sistem penyiraman akan menyala otomatis pada jam-jam tertentu.
Selain itu penyiraman juga dapat dilakukan melalui ponsel. Sehingga dapat dinyalakan dari jarak jauh.
Dalam jangka panjang sistem juga akan dilengkapi dengan sensor kelembaban tanah. Termasuk dengan sensor keasaman tanah.
“Jadi kalau tanahnya sudah lembab, maka akan mati sendiri. Begitu juga kalau sensor menilai sudah perlu pupuk, nanti akan menyala juga. Nanti kami akan gunakan pupuk organik cair,” jelasnya lagi.
Suwarmawan mengatakan, apabila teknologi itu sudah berhasil dan dapat difungsikan secara optimal, maka teknologi itu bisa diadopsi lebih luas.
Contohnya dapat digunakan untuk unit-unit perkantoran lain di institusi pemerintahan.
“Karena sudah ada penyiraman otomatis, waktu yang biasa digunakan untuk menyiram akhirnya bisa digunakan untuk kegiatan lain. Misalnya merawat tanaman atau menata taman,” ujarnya.
Selain itu teknologi tersebut juga bisa diadopsi secara lebih luas bagi para petani milenial. Sehingga dapat membantu mereka dalam mengelola lahan.
“Kami uji coba dulu secara internal, kalau sudah teruji, baru kami aplikasikan secara luas. Supaya penerapannya benar-benar konkret,” demikian Suwarmawan. (*)
Editor : Eka Prasetya