Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Puluhan Desa Masuk Kategori Rawan Longsor, Pemkab Buleleng Dirikan Posko Bencana 24 Jam

Eka Prasetya • Rabu, 17 Desember 2025 | 01:31 WIB

 

CEK POSKO: Bupati Buleleng, I Nyoman Sutjidra (kanan) mengecek posko siaga bencana di Monumen Tri Yudha Sakti.
CEK POSKO: Bupati Buleleng, I Nyoman Sutjidra (kanan) mengecek posko siaga bencana di Monumen Tri Yudha Sakti.

SINGARAJA, RadarBuleleng.id - Mengantisipasi ancaman cuaca ekstrem menjelang perayaan Natal 2025 dan Tahun Baru 2026, Pemkab Buleleng kini membentuk Posko Terpadu Kesiapsiagaan Bencana yang beroperasi selama 24 jam. 

Langkah tersebut diambil menyusul peringatan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) terkait kemunculan bibit siklon tropis 93S yang berpotensi memicu hujan lebat, angin kencang, hingga banjir bandang di wilayah Bali dan sekitarnya.

Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Buleleng, Putu Ariadi Pribadi mengatakan, kesiapsiagaan tidak boleh menunggu bencana terjadi. 

Hal itu disampaikannya saat memimpin rapat koordinasi kesiapsiagaan bencana menyambut Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 di Ruang Rapat BPBD Buleleng, Senin (15/12/2025).

“Kesiapsiagaan tidak boleh menunggu bencana datang. Pemerintah harus hadir lebih dulu untuk memastikan masyarakat merasa aman, apalagi di momentum keagamaan dan libur panjang,” tegas Ariadi.

Dalam pengamanan Natal dan Tahun Baru (Nataru) ini, posko terpadu akan melibatkan BPBD, TNI, Polri, organisasi perangkat daerah (OPD) terkait, relawan, hingga unsur teknis kebencanaan. 

Selain dua pos pengamanan Nataru milik kepolisian, satu pos khusus kebencanaan juga akan disiapkan di kawasan Sangket sebagai pusat respons cepat apabila terjadi kondisi darurat.

Rapat koordinasi tersebut turut menyoroti persoalan banjir berulang yang kembali melanda wilayah Beru dan Banyuasri. 

Drainase yang tersumbat sampah masih dinilai menjadi pemicu utama luapan air yang kerap mengganggu aktivitas warga.

“Titik banjirnya hampir selalu sama setiap tahun. Ini tidak bisa lagi ditangani secara reaktif, tetapi perlu solusi jangka panjang,” ujar Ariadi.

Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Buleleng, I Gede Suyasa, mengungkapkan bahwa saat ini Buleleng berada dalam fase waspada terhadap tiga ancaman bencana utama, yakni tanah longsor, cuaca ekstrem, dan banjir bandang. 

Berdasarkan kajian risiko bencana, terdapat 33 desa rawan longsor, 144 desa rawan cuaca ekstrem, serta 48 desa rawan banjir bandang.

Untuk memperkuat kesiapan, BPBD telah mengaktifkan posko siaga 24 jam, mengerahkan Tim Reaksi Cepat lintas sektor, membentuk 148 Desa Tangguh Bencana, serta mengintensifkan sosialisasi dan simulasi kebencanaan yang telah menjangkau ribuan warga.

Di sisi lain, Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra bersama jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) dan kepala perangkat daerah terkait turun langsung meninjau kesiapan posko, Selasa (16/12/2025).

Bupati Sutjidra menegaskan, pendirian posko terpadu ini merupakan langkah antisipatif menyeluruh. Dengan kondisi geografis yang beragam, Buleleng dikenal rawan bencana seperti banjir, tanah longsor, hingga pohon tumbang, terutama saat musim hujan.

“Kita tentu berdoa tidak terjadi bencana. Tapi posko ini disiapkan untuk mengantisipasi jika sewaktu-waktu terjadi hal yang tidak diinginkan. Dengan posko ini, penanganan bisa jauh lebih cepat,” ujar Sutjidra di lokasi.

Tugu Tri Yudha Sakti sengaja dipilih sebagai pusat posko dinilai strategis. Kawasan Sukasada kerap menjadi titik kejadian bencana dan posisinya berada di jalur penghubung wilayah barat dan timur Buleleng.

“Dari sini komunikasi ke semua kecamatan sudah terhubung. Bahkan kami juga memantau kondisi cuaca secara real time dari BMKG. Jadi potensi ancaman bisa cepat terdeteksi,” jelasnya.

Sutjidra menambahkan, ketika bencana terjadi, posko akan langsung berfungsi sebagai pusat komando darurat. Seluruh unsur terkait berada dalam satu lokasi sehingga koordinasi dapat dilakukan tanpa hambatan.

“Kalau butuh alat berat dari PU atau tenaga medis dari Dinas Kesehatan, semuanya bisa langsung dikoordinasikan di sini. Ini yang membuat respons lebih cepat dan terarah,” katanya.

Ia berharap, dengan kesiapsiagaan yang matang dan koordinasi lintas sektor, masyarakat Buleleng dapat merayakan Natal dan Tahun Baru dengan rasa aman dan tenang. “Kita sudah lihat kesiapannya. Mudah-mudahan tidak terjadi hal yang tidak kita inginkan, tapi kesiapsiagaan tetap harus dijaga,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Buleleng I Gede Suyasa menjelaskan, Posko Terpadu ini melibatkan 13 instansi dan lembaga. Personel berasal dari unsur Polri, Koramil, Dinas Pemadam Kebakaran, Satpol PP, Dinas Kesehatan, PMI, Kesbangpol, hingga BPBD.

Setiap hari, posko dijaga oleh 36 personel yang dibagi dalam tiga shift. “Satu instansi minimal menyiapkan tiga orang per hari. Jadi total ada 36 personel, dengan 13 orang bertugas di setiap shift,” jelas Suyasa.

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

Editor : Eka Prasetya
#bali #tahun baru #siklon tropis #longsor #bmkg #natal #pemkab buleleng #bpbd buleleng #opd #banjir bandang #bencana #nataru #buleleng #cuaca ekstrem