SINGARAJA, RadarBuleleng.id - Petani di Desa Telaga, Kecamatan Busungbiu berhasil menanam sorgum alias jagung gembal.
Tanaman ini untuk pertama kalinya dibudidayakan di Desa Telaga yang notabene terletak di wilayah ketinggian dengan iklim relatif. Sorgum terbukti berhasil tumbuh dengan baik.
Komoditas itu ditanam oleh Wayan Suarjana, 55, petani setempat. Dia menanam sorgum di atas lahan seluas 2 hektare. Sorgum yang ditanam berhasil tumbuh subur dan siap panen dalam kondisi optimal.
Suarjana sendiri belum tahu pasti berapa banyak sorgum yang berhasil dipanen. Dia juga belum tahu berapa keuntungan yang akan diraih.
“Ya mudah-mudahan sesuai harapan. Kalau itu tejadi, bukan mustahil kalau nanti Sorgum akan menghiasi ladang-ladang pertanian di Desa Telaga,” katanya.
Panen tersebut juga menarik perhatian Badan Pangan Nasional (Bapanas). Deputi III Bidang Penganekaragaman Konsumsi dan Keamanan Pangan Badan Pangan Nasional, Andriko Noto Susanto, secara khusus ikut memanen sorgum di Desa Telaga.
Andriko berharap masyarakat Desa Telaga akan terbiasa bercocok tanam sorgum. Hal itu akan mendorong keanekaragaman pangan di Indonesia, khususnya di Bali.
Dengan pangan yang beraneka ragam, maka masyarakat tidak lagi tergantung dengan pangan beras. Apalagi saat ini produksi beras kini semakin terbatas.
“Produksi beras kita dibandingkan dengan konsumsi sekarang mulai agak tipis. Jadi salah satu pilihannya adalah bagaimana kita mendiversifikasi pangan dan komoditas pangan lokal. Salah satu alternatifnya adalah sorgum,” katanya.
Andriko meyakini sorgum bisa menjadi sumber pangan masa depan. Karena sorgum dapat tumbuh di kontur lahan yang sangat kering.
Sorgum juga dapat dikelola menjadi tanaman sela pendamping hasil bumi lain. Seperti tanaman buah, sayur, maupun padi.
Dia juga menjamin sorgum itu akan diserap oleh pihak ketiga. Sehingga menanam sorgum bukan hanya sekadar nostalgia, tapi juga memberikan dampak ekonomi bagi para petani.
Apabila luas areal tanam sorgum bisa diperluas, Bapanas berjanji akan memberikan dukungan peralatan bagi para petani.
“Yang diperlukan petani kan sorgum ditanam, diolah dengan baik, dan diserap oleh pasar sehingga bisa mendatangkan keuntungan,” ujarnya.
Salah satu perusahaan yang siap menyerap hasil panen petani adalah PT Sorgha Sorgum Sejahtera. Perusahaan siap menyerap hasil panen, karena permintaan sorgum di Bali cukup tinggi.
Ia menyebut sorgum biasa dikonsumsi wisatawan mancanegara maupun ekspatriat yang ada di Bali. Dengan menanam sorgum di Bali, maka biaya produksi perusahaan bisa ditekan.
“Saat ini olahan Sorgum untuk wilayah Bali biasanya didatangkan dari Jakarta. Nanti kalau sudah bisa kita produksi di sini, kita akan masuk ke hotel, restoran, dan kafe. Saya yakin pasti laku,” kata Presiden Direktur PT Sorgha Sorgum Sejahtera, Diana Widiastuti. (*)
Editor : Eka Prasetya