Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Kuota Berkurang, Gas Elpiji Bersubsidi di Buleleng Terancam Langka

Eka Prasetya • Kamis, 25 Januari 2024 | 01:43 WIB

 

CEK PASOKAN: General Manager Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus, Dwi Puja Ariestya (kanan) mengecek stok gas elpiji bersubsidi di pangkalan yang ada di Desa Tinga-Tinga, Kecamatan Gerokgak.
CEK PASOKAN: General Manager Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus, Dwi Puja Ariestya (kanan) mengecek stok gas elpiji bersubsidi di pangkalan yang ada di Desa Tinga-Tinga, Kecamatan Gerokgak.

SINGARAJA, RadarBuleleng.id – Kuota gas elpiji bersubsidi di seluruh Bali mulai dikurangi. Pengurangan subsidi itu juga terjadi di Buleleng.

Akibat pengurangan kuota tersebut, gas elpiji bersubsidi juga terancam langka.

Selama ini gas elpiji  bersubsidi dikemas dalam bentuk tabung berwarna hijau dengan ukuran 3 kilogram. Tabung itu dikenal dengan sebutan tabung gas melon.

Pada momen-momen tertentu tabung gas 3 kg memang sulit dicari. Terutama menjelang hari besar keagamaan.

Kini kuota elpiji bersubsidi di seluruh Bali turun hingga 8,9 persen bila dibandingkan dengan kuota pada tahun 2023.

Sementara di Kabupaten Buleleng, kuota gas elpiji turun sebesar 5,5 persen bila dibandingkan dengan kuota 2023.

Tahun ini kuota gas subsidi di Buleleng hanya sebanyak 30.088 metrik ton. Padahal tahun lalu kuota yang dialokasikan mencapai 31.850 metrik ton.

Pengurangan kuota itu diungkap saat Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas (Hiswanas Migas) serta PT Pertamina Patra Niaga menemui Penjabat (Pj) Bupati Buleleng Ketut Lihadnyana, di rumah jabatan Bupati Buleleng, Rabu (24/1/2024).

Saat dikonfirmasi, Kepala Dinas Perdagangan Perindustrian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM) Buleleng, Dewa Made Sudiarta, mengakui ada pengurangan kuota elpiji bersubsidi.

Menurutnya pengurangan kuota di Buleleng jauh lebih rendah bila dibandingkan kabupaten/kota lain.

“Sebenarnya untuk tahun ini usulan yang kami ajukan itu sebanyak 50.048 metrik ton,” katanya.

Hanya saja keputusan soal alokasi kuota sudah keluar. Khusus Buleleng hanya mendapat kuota sebanyak 30.088 metrik ton.

Pengurangan kuota itu praktis akan berdampak pada aktivitas Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di Buleleng yang sedang berkembang saat ini.

“Pasti akan berdampak pada ketersediaan gas elpiji bersubsidi,” kata Sudiarta.

Padahal keperluan masyarakat cukup tinggi. Rata-rata setiap rumah tangga memerlukan gas subsidi sebanyak 12 kilogram sebulan.

Sementara para pelaku UMKM memerlukan hingga 30 kilogram gas subsidi.

Apabila kuota gas elpiji subsidi dikurangi, hal itu dikhawatirkan berdampak pada kenaikan harga makanan, yang akhirnya berdampak pada inflasi.

Hiswana Migas, PT Pertamina Niaga, serta Pemkab Buleleng berencana mengajukan kuota tambahan pada Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

“Harapannya kan minimal kuota yang didapatkan sama dengan kuota tahun lalu,” demikian Sudiarta. (*)

Editor : Eka Prasetya
#gas elpiji bersubsidi #gas 3 kg #gas #elpiji