Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Kerajinan Lukis Telur Jadi Primadona, Sayang Bahan Baku Sulit

Marsellus Pampur • Kamis, 20 Juni 2024 | 01:07 WIB
PRODUK SENI BERKUALITAS: Salah seorang perajin lukis telur menunjukkan poduk yang dijual.
PRODUK SENI BERKUALITAS: Salah seorang perajin lukis telur menunjukkan poduk yang dijual.

RadarBuleleng.id - Kerajinan lukisan telur di Bali menjadi primadona. Kerajinan ini menjadi daya tarik bagi wisatawan mancanegara (wisman).

Maklum saja, kerajinan lukisan telur itu sangat unik. Karena ditulis pada cangkang telur.

Ditambah lagi cerita yang dilukis sangat variatif. Mulai dari cerita klasik pewayangan, hingga tema yang lebih kontemporer.

Pada umumnya perajin melukis karya mereka pada cangkang telur bebek maupun telur angsa. Alasannya sederhana, telur itu lebih besar dari telur ayam.

Selain itu cangkang telur bebek dan telur angsa lebih tebal bila dibandingkan dengan telur ayam ras. Sehingga lebih aman dilukis.

Baca Juga: Inspiratif, Perajin Gamelan Gunakan Drum Bekas Sebagai Bahan Baku

Sebenarnya perajin juga melukis pada cangkang telur burung unta dan telur burung kasuari. 

Namun kini telur dari dua burung besar ini sulit didapatkan. Apalagi burung unta juga menjadi spesies dilindungi. 

Salah seorang perajin di Desa Batuan, Gianyar, Jro Amik mengungkapkan, para perajin kini mulai melirik pembuatan lukisan telur berbahan kayu.

Kayu dibentuk sedemikian rupa sehingga menyerupai telur. Selanjutnya dilukis seperti biasa.

Baca Juga: Kreatif, Kelompok Perempuan Ini Olah Batok Kelapa Jadi Produk Kerajinan

Perubahan itu terjadi karena lukisan pada cangkang telur sangat riskan rusak. Sementara wisatawan memerlukan souvenir yang lebih tahan guncangan.

“Sebenarnya yang mau cangkang telur asli juga banyak. Memang risikonya cukup rentan pecah,” katanya.

Selain itu untuk mendapatkan cangkang telur juga mulai sulit. Apalagi cangkang telur burung unta.

Mereka harus impor dari Afrika. “Malah setahun ini saya belum dapat kiriman bahan baku telur unta,” ujar Jro Amik.

Menurutnya para perajin masih berlomba-lomba mencari cangkang telur burung unta. Alasannya peminat dari kolektor di luar negeri cukup banyak.

“Biasanya untuk ongkos impor saja kami perlu Rp 700 ribu per butir. Sementara ini ya diakali pakai telur bebek, telur angsa, atau kayu,” demikian Jro Amik. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

Editor : Eka Prasetya
#bali #lukisan #telur #Perajin #wisatawan mancanegara #kerajinan