Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Sawah di Bali Makin Habis! Dalam Setahun 100 Hektare Sawah Beralih Fungsi

Ni Made Ari Rismaya Dewi • Rabu, 7 Agustus 2024 | 23:03 WIB

 

ALAT TRADISIONAL: Petani menyelesaikan pekerjaaan meratakan tanah, saat akan menanam padi di wilayah Padangsambian Kelod, Denpasar.
ALAT TRADISIONAL: Petani menyelesaikan pekerjaaan meratakan tanah, saat akan menanam padi di wilayah Padangsambian Kelod, Denpasar.

RadarBuleleng.id - Lahan pertanian di Bali makin lama makin habis. Terutama di wilayah perkotaan.

Seperti yang terjadi di Kota Denpasar. Bahkan dalam setahun belakangan, 100 hektare sawah hilang berganti toko hingga pemukiman.

Fakta itu diungkap Kepala Dinas Pertanian Denpasar, Anak Agung Gde Bayu Brahmasta. Menurutnya, Denpasar kini tengah menghadapi ancaman alih fungsi lahan yang signifikan.

Ia menyebut, luas baku lahan pertanian di Denpasar sebenarnya mencapai 2.000 hektare.

Baca Juga: Fakta! Sawah di Bali Habis. Kebutuhan Pangan Harus Disuplai dari Jawa Timur

Dari lahan seluas 2.000 hektare itu, hanya 1.000 hektare yang ditetapkan sebagai sawah abadi. Artinya sawah itu tidak boleh alih fungsi, apapun alasannya.

"Isu alih fungsi lahan itu sifatnya tinggi. Tapi Pemkot Denpasar sudah menetapkan Perda lahan sawah yang dilindungi sekitar hampir 1.000 hektar," kata Bayu saat ditemui di Subak Anggabaya, Penatih, kemarin (6/8/2024).

Ia menyebut persentase alih fungsi lahan berkisar di bawah 20 persen. "Tahun 2023 sampai sekarang berkurang sudah 100 hektar. Ini kalau didiamkan akan terus (bertambah)," imbuhnya.

Baca Juga: Lapor Pak! 1.022 Ton Beras Bantu Kendalikan Harga Pangan Buleleng

Bayu menyatakan pemerintah telah berusaha mencegah lewat peraturan yang ditetapkan Pemkot melalui perlindungan lahan pertanian dan pangan berkelanjutan, serta pembebasan pajak.

Tak cukup itu saja, pemerintah juga menyiapkan asuransi kecelakaan kerja dari Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Tenaga Kerja (BP Jamsostek), serta ada santunan bagi yang meninggal.

"Termasuk nanti beasiswa bagi anaknya. Mungkin kalau petani meninggal, anaknya kami kasih beasiswa sampai kuliah," kata Bayu.

Harapannya dengan strategi itu, profesi petani terus bisa dihargai dan dilindungi. Selain itu sawah juga semakin terpelihara.

"Walaupun kota namanya, masih punya lahan pertanian. Bagaimana lahan pertanian ini dijaga, sehingga bisa menghasilkan pangan," tegasnya. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

Editor : Eka Prasetya
#bali #pangan #pertanian #denpasar #sawah