Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Janur Semakin Langka, Harga Canang Ikut Naik

Admin • Rabu, 27 November 2024 - 00:36 WIB
HARGA NAIK: Gudang penyimpanan busung atau janur kelapa di Desa Lokapaksa. Harga busung kini semakin mahal.
HARGA NAIK: Gudang penyimpanan busung atau janur kelapa di Desa Lokapaksa. Harga busung kini semakin mahal.

RadarBuleleng.id - Gudang yang terletak di Banjar Dinas Carik Agung, Desa Lokapaksa, Kecamatan Seririt itu terlihat penuh sesak dengan busung (janur kelapa). Sejumlah wanita terlihat sibuk menyortir dan memilah busung yang baru saja dikirimkan.

Busung menjadi salah satu kebutuhan primer bagi masyarakat Bali, khususnya umat Hindu. Termasuk juga bagi umat Hindu di Kabupaten Buleleng. Busung menjadi komponen utama dalam membuat perlengkapan upacara keagamaannya. Setiap hari busung diperlukan untuk membuat canang.

Permintaan terhadap busung terus meningkat, seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk. Masalahnya, suplai busung di Bali terbatas.

Pohon kelapa banyak yang ditebang karena sudah tua. Sementara proses peremajaan tanaman memakan waktu. Kondisi itu diperparah dengan minimnya buruh pemetik janur. Banyak yang memilih pekerjaan lain yang lebih menjanjikan, misalnya menjadi buruh petik cengkih.

Akhirnya, solusi cepat yang bisa dilakukan ialah mendatangkan pasokan dari luar Bali. Khususnya dari Pulau Jawa.

Salah seorang pemasok busung di Buleleng, Ketut Suyatemi mengatakan, saat ini pasokan di dalam Bali sangat terbatas. Pihaknya harus mendatangkan busung dari Banyuwangi maupun Malang. Jarena jarak cukup jauh, ia harus merogoh biaya lebih besar untuk ongkos kirim.

“Biasanya harga busung per ikat itu sekitar Rp. 10.000 sampai Rp. 15.000. Tapi sekarang harganya Rp. 25.000 sampai Rp. 30.000 per ikat. Ongkos angkut dari Jawa yang mahal,” ungkap wanita yang mukim Desa Lokapaksa itu.

Busung dari Jawa dikumpulkan di gudang. Selanjutnya busung disortir dan dipilah sesuai kualitas. Semakin bagus kualitas, tentu harganya semakin tinggi.

Setelah lewat proses penyortiran, busung kemudian didistribusikan ke sejumlah pasar. Seperti Pasar Seririt, Pasar Banyuasri, Pasar Anyar, dan Pasar Banjar.

Gegara harga janur naik, masyarakat pun kena imbasnya. Pedagang canang misalnya, mau tak mau harus menaikkan harga jual canang.

Tadinya setiap Rp 1.000, masyarakat bisa membeli 5 buah canang. Kini dengan kenaikan harga busung, uang Rp 1.000 hanya cukup untuk membeli 3 buah canang.

Bukan hanya harga canang sari, harga banten untuk keperluan upakara juga naik tinggi. Sebab bukan hanya harga busung yang naik, harga bunga dan buah juga ikut-ikutan naik.

Untuk mengakali harga, warga harus memilih bahan baku lain. “Ya harus hemat. Misalnya pakai ental (daun lontar) atau busung Sulawesi, biar lebih murah dan awet. Karena kalau harganya naik semua, kasihan masyarakat yang mau meyadnya,” ungkap Jro Made Kerti, pedagang canang dan banten.  (kontributor: I Gede Arya Utama )

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

Editor : Eka Prasetya
#bali #Janur #busung #harga #canang #Banten