RadarBuleleng.id – Minat masyarakat Bali untuk menjadi Pekerja Migran Indonesia (PMI) masih tergolong tinggi. Salah satu alasan utamanya adalah tawaran gaji yang lebih besar dibandingkan pekerjaan dalam negeri.
Data dari Dinas Ketenagakerjaan dan ESDM Provinsi Bali mencatat, selama periode Januari hingga Juni 2025, jumlah PMI asal Bali mencapai 5.631 orang.
Meski Bali menjadi provinsi dengan sektor pariwisata terbaik di seluruh Indonesia, namun para pemuda Bali justru memilih bekerja pada sektor pariwisata di luar negeri.
Kepala Disnaker dan ESDM Bali, Ida Bagus Setiawan, menyebut jumlah tersebut didominasi laki-laki sebanyak 3.153 orang, sedangkan perempuan berjumlah 2.478 orang.
Negara tujuan terbanyak yakni Turki dengan 1.940 pekerja, disusul Italia 1.936 orang, dan Bulgaria sebanyak 382 orang.
“Mereka mayoritas bekerja sebagai terapis, waiter, dan housekeeping,” ujar Setiawan yang akrab disapa Gus Iwan, Senin (21/7).
Secara rinci, jumlah pekerja migran asal Bali berdasarkan bidang pekerjaan terbagi atas terapis sebanyak 1.461 orang, waiter (pelayan restoran) 943 orang, dan housekeeping 415 orang.
Sementara itu, dari sisi wilayah asal, tiga kabupaten dengan jumlah PMI terbanyak adalah Buleleng sebanyak 1.434 orang, Karangasem 736 orang, dan Bangli 593 orang.
“Total 5.631 PMI itu tersebar dari sembilan kabupaten/kota di Bali selama enam bulan pertama 2025,” jelas Gus Iwan.
Fenomena tingginya jumlah anak muda Bali yang memilih bekerja di luar negeri juga menjadi perhatian DPRD Bali.
Fraksi Demokrat–NasDem menyebut kondisi ini sebagai ironi. Bali sebagai daerah tujuan wisata justru banyak diisi pekerja luar, sementara generasi mudanya justru memilih kerja di luar negeri.
Anggota DPRD Bali dari Fraksi Demokrat–NasDem, I Gusti Ayu Mas Sumatri menilai, situasi tersebut membuat desa-desa di Bali hanya ditinggali oleh orang tua, yang kemudian menanggung beban menjaga adat, budaya, dan agama.
“Padahal kekuatan utama pariwisata Bali justru bertumpu pada nilai-nilai agama Hindu, adat, dan budaya lokal,” ujarnya.
Untuk itu, pihaknya mendorong pemerintah provinsi, khususnya Gubernur Bali Wayan Koster, agar hadir menyikapi fenomena ini.
Salah satu langkah konkret yang diusulkan yakni mengevaluasi besaran Upah Minimum Regional (UMR) agar lebih kompetitif dan menarik bagi tenaga kerja muda.
Fraksi Demokrat–NasDem juga mendorong sektor swasta memperluas peluang kerja di bidang-bidang potensial yang mampu menyerap tenaga kerja lokal, sehingga ke depan, generasi muda Bali tidak perlu meninggalkan kampung halaman hanya demi mencari penghidupan lebih baik. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya