RadarBuleleng.id - Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali merilis perkembangan harga gabungan kabupaten/kota perhitungan inflasi pada Agustus 2025.
Hasilnya, Bali mencatat deflasi bulanan sebesar -0,39 persen (month to month/mtm), berbalik arah dari bulan sebelumnya yang mengalami inflasi 0,32 persen.
Secara tahunan, inflasi Bali juga melandai ke level 2,65 persen (year on year/yoy), turun dari 3,16 persen pada Juli 2025.
Khusus di Kabupaten Buleleng, terjadi deflasi 0,56 persen. Sementara angka laju inflasi pada tahun ini berada di angka 1,10 persen. Jauh di bawah target setinggi 2,5 persen.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Bali, Erwin Soeriadimadja mengatakan, laju inflasi bisa dikendalikan karena harga pangan mulai terkendali.
Dari hasil identifikasi, harga makanan, minuman dan tembakau menurun. Hal tersebut tak lepas dari panen raya di sejumlah daerah.
Peningkatan pasokan akibat panen membuat harga sejumlah komoditas turun. Baik itu tomat, cabai rawit, daging babi, buncis.
Selain itu penurunan harga tiket pesawat juga ikut menjadi penyumbang deflasi terbesar pada Agustus.
Namun masih ada sejumlah komoditas yang harganya belum terkendali. Seperti beras, pepaya, biaya sekolah, serta bahan bakar untuk kebutuhan rumah tangga seperti LPJ.
Lebih lanjut Erwin mengatakan, ada sejumlah faktor risiko yang perlu diantisipasi. Di antaranya, lonjakan permintaan barang dan jasa pada puncak kunjungan wisatawan mancanegara.
Selain itu, perbaikan jalur utama Jawa–Bali juga bisa memengaruhi distribusi barang. Hal itu bisa berpengaruh terhadap harga barang.
Selain itu, ketidakpastian cuaca akibat musim kemarau basah juga dikhawatirkan mengganggu panen hortikultura serta distribusi pasokan melalui angkutan laut. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya