Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Gerai Tutup, Utang Membengkak: KFC Indonesia Hadapi Persimpangan Bisnis di 2025

Dianisa Damayanti • Senin, 6 Oktober 2025 | 20:49 WIB

ilustrasi gerai KFC.
ilustrasi gerai KFC.

RadarBuleleng.id - PT Fast Food Indonesia Tbk (FAST), pemegang lisensi waralaba KFC di Indonesia, tengah menghadapi tahun yang berat.

Hingga September 2025, perusahaan telah menutup 19 gerai di berbagai daerah dan melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap sekitar 400 karyawan.

Langkah ini menjadi bagian dari strategi efisiensi setelah penjualan belum pulih sepenuhnya pasca pandemi.

Penutupan sejumlah gerai dilakukan karena masa sewa yang habis dan performa penjualan yang menurun.

Manajemen KFC menyebut, beberapa lokasi yang ditutup akan dievaluasi ulang dan berpotensi direlokasi ke kawasan dengan potensi transaksi lebih tinggi.

“Kami melakukan penyesuaian agar operasional tetap efisien dan berkelanjutan,” ujar manajemen KFC Indonesia dalam keterangan tertulis yang dikutip dari laporan keuangan perusahaan.

Baca Juga: Beda Data, Beda Nada: Polemik Hitungan Subsidi LPG 3 Kg Buka Ketegangan antar Menteri

Di tengah langkah efisiensi tersebut, kondisi keuangan KFC Indonesia juga menunjukkan tekanan.

Berdasarkan laporan semester I 2025, utang perusahaan meningkat menjadi sekitar Rp 3,97 triliun, naik dari Rp 3,40 triliun pada akhir 2024.

Meski demikian, manajemen mencatat adanya perbaikan kinerja dengan kerugian bersih Rp 138,75 miliar, turun hampir 60 persen dibanding periode sama tahun sebelumnya yang mencapai Rp 348,83 miliar.

Pendapatan KFC selama enam bulan pertama 2025 tercatat sebesar Rp 2,40 triliun, sedikit menurun dari Rp 2,48 triliun pada semester I 2024.

Namun, efisiensi biaya membuat laba bruto perusahaan mengalami peningkatan.

Untuk menopang arus kas, pemegang saham utama yaitu keluarga Gelael bersama Anthoni Salim juga turut menyuntikkan dana tambahan sebesar Rp 40 miliar melalui mekanisme private placement.

Langkah penutupan gerai dan penyesuaian struktur organisasi disebut sebagai upaya menjaga stabilitas bisnis di tengah biaya operasional yang tinggi.

“Keputusan ini bukan hal mudah, namun diperlukan agar perusahaan tetap bertahan dan mampu beradaptasi dengan kondisi pasar,” ungkap perwakilan manajemen FAST.

Selain itu, lonjakan utang membuat ekspansi jaringan KFC tertahan.

Perusahaan menunda pembukaan gerai baru hingga situasi keuangan lebih stabil.

Meski menghadapi tantangan, manajemen menegaskan akan terus mencari peluang untuk inovasi produk dan memperkuat layanan digital sebagai bagian dari strategi pemulihan. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

Editor : Eka Prasetya
#waralaba #gerai #penjualan #pemutusan hubungan kerja #phk #kfc #karyawan #utang #pandemi #manajemen #kfc indonesia