SINGARAJA, RadarBuleleng.id - Sempat dibuat tiarap karena gelombang pasang dan angin kencang, para nelayan kini merasakan berkah.
Seperti yang terlihat di Desa Celukan Bawang, Kecamatan Gerokgak, Kabupaten Buleleng, Bali. Nelayan kini memasuki musim panen ikan.
Menariknya, gerombolan ikan berbagai jenis justru mendekat hingga ke garis pantai. Kondisi tersebut membuat nelayan lebih mudah menjaring tangkapan, seolah ikan “menyerahkan diri”.
Ketua Kelompok Nelayan Segara Madu, M. Nasri mengatakan, Februari memang menjadi puncak musim ikan di kawasan tersebut.
“Memang sedang ada panen nelayan. Untuk sekarang ini, Februari, memang pas musim ikan,” ujarnya, Senin (16/2/2026).
Suasana pesisir pun terlihat lebih hidup. Perahu-perahu merapat dengan muatan penuh, didominasi ikan tongkol kecil.
Di tepi pantai, para buruh angkut—yang sebagian besar ibu-ibu—tampak sigap memindahkan ikan dari perahu menggunakan ember sebelum diangkut kendaraan.
Menurut Nasri, siklus panen sebenarnya sudah mulai terasa sejak Januari, ditandai dengan melimpahnya ikan teri halus di perairan dangkal. Memasuki Februari, hasil tangkapan bergeser ke tongkol kecil setelah sempat jeda.
Aktivitas bongkar muat juga memberi dampak ekonomi bagi warga. Ongkos angkut dihargai Rp 5 ribu per ember, dengan sekali angkut bisa mencapai sepuluh ember atau lebih.
“Lumayan, satu ember ongkos angkutnya Rp 5 ribu dan sekali angkut bisa sampai sepuluh ember bahkan lebih. Berpengaruh pada penghasilan,” jelasnya.
Nasri juga menepis kekhawatiran lama soal keberadaan PLTU dan dermaga batubara yang disebut-sebut bisa memengaruhi hasil tangkapan. Ia mengklaim aktivitas industri tidak berdampak pada mata pencaharian nelayan.
“Saya juga dulu ada keraguan. Tetapi setelah berjalannya (PLTU) juga tidak ada (dampak), belum ada pengaruhnya untuk sementara ini,” tutupnya. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya