Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Permintaan Ekspor Melonjak, Harga Manggis Bali Tembus Rp 80 Ribu per Kilogram

Juliadi Radar Bali • Minggu, 26 April 2026 | 06:36 WIB
SORTIR BUAH: Proses penyortiran buah manggis untuk memenuhi kebutuhan ekspor ke China. (Juliadi/Radar Bali)
SORTIR BUAH: Proses penyortiran buah manggis untuk memenuhi kebutuhan ekspor ke China. (Juliadi/Radar Bali)

 

RadarBuleleng.id - Harga buah manggis di Bali untuk pasar ekspor tengah melonjak signifikan. Saat ini, harganya mencapai Rp 80 ribu per kilogram, naik dari sebelumnya sekitar Rp 52 ribu. 

Kenaikan ini bukan dipicu faktor global seperti konflik Timur Tengah, melainkan anjloknya produktivitas di tingkat petani saat musim panen.

Eksportir sekaligus petani manggis asal Tabanan, Jero Putu Tesan, mengungkapkan kenaikan harga sudah terjadi sejak Januari lalu. Penurunan produksi disebut terjadi hampir di seluruh sentra manggis di Indonesia, tidak hanya di Bali.

"Naik harga buah manggis, karena secara produktivitas menurun, itu terjadi di seluruh Indonesia bukan hanya Bali saja," ujarnya.

Ia menjelaskan, musim panen Maret hingga April tahun ini tergolong buruk. Rata-rata produksi hanya mencapai sekitar 10 persen dari kondisi normal. 

Penyebab utamanya adalah musim hujan berkepanjangan yang terjadi pada Oktober hingga November 2025.

Curah hujan tinggi pada periode pembungaan membuat banyak bunga manggis rontok sebelum berkembang menjadi buah. Bahkan, sebagian bunga justru berubah menjadi daun, sehingga gagal berbuah.

"Manggis belum ada skenario atau perlakuan agar cepat berbuah. Karena perlakuan di tingkat petani masih konvensional, jadi sangat bergantung pada faktor alam atau cuaca," jelasnya.

Meski harga melonjak, pasar ekspor manggis Indonesia tetap stabil dan tidak terpengaruh situasi geopolitik global. 

Sekitar 80 persen ekspor manggis Indonesia masih didominasi ke Tiongkok atau China, yang memiliki tingkat konsumsi tinggi, baik untuk kebutuhan kesehatan maupun keperluan ritual.

"Kalau Timur Tengah juga kami kirim buah manggis, tapi hanya sekitar 5 persen, masih kecil dibanding China," tambahnya.

Untuk memenuhi permintaan ekspor di tengah minimnya pasokan lokal, pelaku usaha terpaksa mendatangkan manggis dari luar Bali, seperti Sumatera, Lampung, Banyuwangi, hingga Lombok. Buah-buah tersebut kemudian dikumpulkan dan disortir sebelum dikirim ke luar negeri.

Namun, tingginya harga tidak serta-merta mendatangkan keuntungan besar. Biaya logistik justru meningkat karena harus mendatangkan pasokan dari luar pulau.

"Kami tetap membeli meski harga tinggi, demi menjaga konektivitas pasar dan relasi dengan buyer di China," ujarnya.

Dalam sekali pengiriman, ekspor manggis ke China membutuhkan minimal satu ton untuk jalur udara dan sekitar 16 ton untuk jalur laut.

Ia berharap, kondisi produksi manggis ke depan bisa kembali normal agar kebutuhan pasar ekspor tetap terpenuhi tanpa kendala pasokan. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

 

Editor : Eka Prasetya
#bali #Manggis #china #buah #ekspor