Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Penjualan Kain Tenun Bali Makin Lesu. Perajin Dibayangi Kelangkaan Bahan Baku

Dewa Ayu Pitri Arisanti • Sabtu, 2 Mei 2026 | 06:36 WIB
TETAP PRODUKSI: Salah seorang perajin tenun di Desa Gelgel Klungkung. Saat ini penjualan tenun khas Bali semakin lesu. Perajin juga dibayangi dengan kelangkaan bahan baku. (Dewa Ayu Pitri Arisanti/Radar Bali)
TETAP PRODUKSI: Salah seorang perajin tenun di Desa Gelgel Klungkung. Saat ini penjualan tenun khas Bali semakin lesu. Perajin juga dibayangi dengan kelangkaan bahan baku. (Dewa Ayu Pitri Arisanti/Radar Bali)

 

RadarBuleleng.id – Penjualan kain tenun di Kabupaten Klungkung, Bali, menunjukkan tren penurunan. Kondisi ini dipicu kekhawatiran masyarakat terhadap situasi ekonomi global yang belum stabil, sehingga berdampak pada daya beli.

Pelaku usaha tenun di Desa Gelgle, Agus Askara, mengungkapkan pesanan kain tenun, khususnya songket dengan harga jutaan rupiah, masih tetap ada. Namun, jumlahnya tidak sebanyak sebelumnya.

”Banyak datang dari orang pribadi untuk kebutuhan pernikahan. Namun mengalami penurunan sejak awal tahun 2026,” ungkap Agus.

Menurutnya, masyarakat kini cenderung lebih selektif dalam membelanjakan uang, terutama untuk produk non-primer seperti kain tenun.

Tak hanya soal penurunan omzet, perajin juga dihadapkan pada persoalan ketersediaan bahan baku. 

Agus mengaku mulai kesulitan mendapatkan benang emas dengan merek tertentu yang biasa digunakan dalam proses produksi.

Saat ini, ia masih mengandalkan stok bahan baku yang tersisa untuk memenuhi pesanan lama.

”Saya masih punya stok untuk 4-5 bulan ke depan. Saya tidak tahu penyebab kelangkaan itu karena apa. Karena distributor hanya bilang barangnya kosong,” jelasnya.

Meski belum merasakan kenaikan harga bahan baku secara langsung, Agus memperkirakan lonjakan harga berpotensi terjadi dalam waktu dekat. Pasalnya, sebagian besar bahan baku kain tenun masih bergantung pada pasokan dari luar negeri.

Ia pun berharap kenaikan harga, jika terjadi, tidak terlalu signifikan agar harga jual produk tetap bisa dipertahankan.

”Kalau kenaikan harga bahan baku tidak terlalu besar, saya berusaha mempertahankan harga kain,” katanya.

Di tengah kondisi tersebut, persaingan pasar kain tenun di Bali juga semakin ketat. Selain kualitas, faktor harga menjadi pertimbangan utama konsumen dalam memilih produk.

Saat ini, harga kain tenun songket di pasaran berkisar antara Rp 2 juta hingga Rp 12 juta per lembar. 

Sementara untuk kain tenun endek, harganya berada di rentang Rp 250 ribu hingga Rp 3,5 juta per lembar.

Agus mengaku harus cermat dalam menentukan harga agar tetap kompetitif tanpa mengorbankan kualitas.

”Kami harus benar-benar menjaga keseimbangan antara kualitas dan harga supaya konsumen tidak berpaling,” tandasnya. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

 

Editor : Eka Prasetya
#bali #songket #endek #klungkung #tenun