RadarBuleleng.id - Deretan kain Bali bergelantungan rapi di salah satu sudut kawasan objek wisata Pemandian Air Panas Banjar, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng.
Motifnya beragam. Ada yang didominasi warna-warna cerah, ada pula yang menampilkan corak khas Bali.
Di antara lalu-lalang wisatawan yang datang untuk menikmati hangatnya mata air alami, kain-kain itu seolah menjadi penanda bahwa pariwisata tidak hanya soal destinasi, tetapi juga tentang kehidupan masyarakat yang tumbuh di sekitarnya.
Bagi para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di kawasan tersebut, setiap lembar kain yang terjual merupakan sumber penghasilan yang menjaga dapur tetap mengepul.
Di baliknya, ada harapan untuk memenuhi kebutuhan keluarga, membiayai pendidikan anak, hingga mempertahankan usaha yang telah dirintis selama bertahun-tahun.
Salah seorang pedagang yang telah berjualan di kawasan Air Panas Banjar selama sekitar 15 tahun Dewa Gede Dodik, 35, menuturkan, kain Bali dan aneka aksesori khas Pulau Dewata masih menjadi produk yang paling banyak dicari wisatawan.
Menurutnya, wisatawan cenderung tertarik pada produk yang memiliki identitas kuat sebagai ciri khas Bali.
“Kain Bali yang ada label atau ciri khas Balinya biasanya lebih diminati. Wisatawan merasa membawa pulang sesuatu yang benar-benar mencerminkan Bali,” ujarnya.
Namun perjalanan UMKM di kawasan wisata tersebut tidak selalu mulus. Ia masih mengingat masa ketika pandemi Covid-19 melumpuhkan sektor pariwisata pada tahun 2020 hingga 2022 silam. Kawasan yang biasanya ramai mendadak sepi. Wisatawan nyaris tidak ada. Penjualan pun merosot drastis.
Belum sepenuhnya pulih dari pandemi, ketidakpastian global akibat konflik geopolitik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel, kembali memengaruhi arus kunjungan wisatawan.
Dampaknya langsung terasa bagi pelaku usaha kecil yang menggantungkan penghasilan dari aktivitas wisata.
"Tantangan terbesar bagi pelaku UMKM di sektor pariwisata adalah ketika terjadi Covid-19 dan perang yang berdampak pada kunjungan wisatawan. Saat itu kawasan wisata menjadi sepi dan penjualan menurun," katanya.
Kini, kondisi mulai membaik. Wisatawan perlahan kembali berdatangan ke Air Panas Banjar. Meski belum sepenuhnya bebas dari tantangan, optimisme tumbuh di kalangan pelaku UMKM. Mereka berharap produk lokal tidak hanya dikenal wisatawan domestik, tetapi juga mampu menembus pasar internasional.
"Harapannya UMKM di Banjar bisa semakin go internasional dan mendapat dukungan dari pemerintah. Sampai saat ini kami merasa dukungan untuk UMKM di kawasan Banjar masih perlu ditingkatkan," ujarnya.
Keberadaan UMKM ternyata juga menjadi bagian penting dari pengalaman wisata itu sendiri. Bagi sejumlah pengunjung, berwisata tidak hanya menikmati destinasi, tetapi juga mengenal budaya lokal melalui produk-produk yang dijual masyarakat.
Seorang wisatawan yang berkunjung ke Air Panas Banjar yang bernama Ayu Krisna Damayanti asal Tejakula mengaku tertarik dengan berbagai produk lokal yang dipajang di sekitar kawasan wisata.
Menurutnya, kain Bali menjadi salah satu produk yang paling mencuri perhatian karena memiliki motif yang unik dan identitas budaya yang kuat.
Baginya, keberadaan UMKM membuat kunjungan ke Air Panas Banjar terasa lebih lengkap. Setelah menikmati pemandian air panas, wisatawan masih dapat membawa pulang sepotong cerita tentang Bali melalui produk-produk lokal yang mereka beli.
Pandangan serupa disampaikan Manajer Air Panas Banjar, Ida Komang Artana. Ia menilai UMKM telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari ekosistem pariwisata di kawasan tersebut.
Produk-produk lokal yang dijual masyarakat turut memperkuat daya tarik destinasi, terutama bagi wisatawan mancanegara yang kerap mencari cendera mata khas daerah.
Menurut Artana, pengelola wisata terus berupaya menjaga hubungan harmonis antara masyarakat, pelaku usaha, dan kawasan wisata.
Koordinasi rutin dilakukan untuk memastikan keamanan dan kenyamanan tetap terjaga, sekaligus mencegah munculnya persaingan yang tidak sehat.
"Kami selalu berkoordinasi dengan warga sekitar agar pariwisata di Banjar tetap terjaga dan berkembang dengan baik. Keamanan dan kenyamanan wisatawan menjadi hal yang penting untuk diperhatikan," ujarnya.
Artana menambahkan, meskipun lahan kawasan wisata Air Panas Banjar merupakan milik pribadi, pemerintah juga sebenarnya punya peran dalam pengembangan wisata.
Caranya, bermitra melalui yayasan yang terlibat dalam pengelolaan. Selama ini yayasan selaku pengelola objek wisata, rutin menyetorkan bagi hasil retribusi tiket wisata kepada pemerintah.
Tak hanya itu, Air Panas Banjar juga memberikan kontribusi terhadap pendapatan daerah melalui sektor pariwisata yang terus berkembang. Keberadaan UMKM di kawasan Air Panas Banjar menunjukkan bahwa sektor pariwisata tidak hanya memberikan manfaat bagi wisatawan, tetapi juga menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat sekitar.
Di tengah geliat pariwisata yang kembali bergerak, UMKM di Air Panas Banjar menjadi gambaran bagaimana sektor wisata dapat menghidupkan roda ekonomi masyarakat.
Dari lapak-lapak sederhana itu, budaya Bali diperkenalkan kepada dunia, sementara masyarakat lokal memperoleh kesempatan untuk tumbuh bersama perkembangan destinasi wisata.
Selembar kain Bali yang dibawa pulang wisatawan mungkin tampak sederhana. Namun bagi para pedagang di Air Panas Banjar, kain itu adalah harapan agar pariwisata terus bergerak, membawa manfaat bagi masyarakat yang hidup di sekelilingnya. (Penulis: Putri Febrianti)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya
Sumber : Radar Buleleng