Di sebuah kandang sederhana, di Desa Panji, Kecamatan Sukasada, Buleleng, suara kokok ayam masih terdengar bersahutan setiap pagi. Bagi Wayan Putrayasa, suara itu bukan sekadar penanda hari dimulai. Suara itu adalah saksi perjalanan panjang hidupnya selama lebih dari tiga dekade bergelut di dunia peternakan dan perdagangan ayam.
Pria kelahiran 28 Agustus 1971 itu mulai menekuni usaha ternak dan jual beli ayam sejak tahun 1990. Di usia yang masih muda, ia memilih menapaki jalan sebagai pelaku usaha dibanding mencari pekerjaan lain.
“Saya sudah mulai dari tahun 1990,” ungkap Wayan Putrayasa, warga Lingkungan Kayubuntil, Kelurahan Kampung Anyar, Singaraja itu.
Meski menetap di kawasan tersebut, ia telah menjalankan usaha peternakan ayamnya di Desa Panji, Kecamatan Sukasada. Usaha yang dirintisnya itu menjadi sumber penghidupan keluarga sekaligus saksi berbagai suka dan duka yang ia lalui sebagai peternak.
Keputusan itu menjadi awal dari perjalanan panjang yang penuh asam garam. Putrayasa mengawali usaha ternak ayam saat kondisi jual beli ayam tengah berada dalam masa yang menjanjikan. Jumlah pedagang masih sedikit, sementara peternak cukup banyak. Pasokan ayam mudah diperoleh dan permintaan pasar juga tinggi.
“Dulu dagang masih sedikit, peternak banyak, cari ayam mudah, pembeli juga ramai,” kenangnya.
Dari usaha kecil yang dirintisnya, Wayan mulai merasakan hasil manis kerja keras. Hanya setahun setelah memulai usaha, tepatnya pada 1991, ia sudah mampu membeli sebidang tanah seluas dua are dari keuntungan berdagang ayam.
Di saat yang sama, perempuan yang kemudian menjadi pendamping hidupnya juga bekerja keras membantu perekonomian keluarga dengan berjualan sayur sejak tahun 1990.
Ketika keduanya menikah pada 1993, mereka tidak memulai kehidupan rumah tangga dengan kemewahan. Mereka membangun semuanya perlahan dari hasil berdagang, berjualan, dan bekerja tanpa mengenal lelah.
Namun roda kehidupan tidak selalu berputar di atas. Tahun 1998 menjadi salah satu ujian terberat yang pernah dihadapi Wayan Putrayasa. Krisis moneter yang mengguncang Indonesia membuat kondisi ekonomi masyarakat terpuruk. Daya beli melemah, aktivitas perdagangan melambat, dan usaha kecil ikut terkena imbasnya.
Sebagai pedagang ayam, praktis ia merasakan langsung dampak badai ekonomi tersebut. Menurutnya, usaha ternak ayam sangat bergantung pada kondisi masyarakat. Ketika ekonomi lesu dan penghasilan warga menurun, pembelian ayam ikut berkurang.
Meski demikian, ia memilih bertahan. Perlahan kondisi ekonomi membaik memasuki awal tahun 2000-an. Usahanya kembali stabil. Penghasilan yang diperoleh cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga sekaligus membiayai pendidikan anak-anaknya.
Namun ketika keadaan mulai membaik, cobaan lain kembali datang. Pandemi Covid-19 yang melanda Indonesia pada 2020 menjadi pukulan telak berikutnya. Bagi Wayan, situasi saat pandemi mengingatkannya pada masa-masa krisis moneter dua dekade sebelumnya. Bahkan lebih parah.
Aktivitas ekonomi melambat drastis, banyak usaha berhenti beroperasi, sementara kebutuhan hidup tetap harus dipenuhi setiap hari. Banyak usaha tidak berjalan, termasuk peternakan miliknya. Pedagang satu persatu gulung tikar, sementara pengeluaran tetap harus dipenuhi. Utang bank juga tak bisa ditunda.
“Waktu Covid pemasukan sangat kurang, tapi pengeluaran tetap besar,” katanya.
Kondisi itu memaksanya mengambil keputusan ekstrem. Untuk mempertahankan usaha dan melunasi kewajiban yang menumpuk, dia menjual rumah dengan harga di bawah pasaran. Keputusan pahit itu diambil agar usaha yang menjadi sumber penghidupan keluarganya tetap bisa berjalan.
Beruntung, badai itu berhasil dilewati. Usahanya perlahan bangkit. Sedikit demi sedikit kondisi kembali normal hingga kini aktivitas perdagangan ayam yang dijalaninya kembali bergerak seperti sediakala.
Saat ini Wayan menjual berbagai jenis ayam untuk kebutuhan yang berbeda. Mulai dari ayam pejantan, ayam kampung untuk kebutuhan upacara caru, ayam kampung ukuran tanggung, hingga ayam potong merah.
Ayam kampung untuk keperluan upacara (caru) misalnya, dijual Rp 30 ribu dari modal Rp 25 ribu. Sementara ayam kampung ukuran tanggung dijual Rp 80 ribu dari modal Rp70 ribu. Sementara ayam potong merah dijual Rp 60 ribu dari modal Rp 55 ribu.
Meski usaha masih berjalan, tantangan baru kembali muncul. Kenaikan harga pakan membuat kapasitas ternaknya menyusut. Jika dulu mampu memelihara ayam dalam jumlah lebih besar, kini ia hanya mampu menampung sekitar 300 ekor ayam.
“Sekarang pakan mahal, jadi tidak bisa pelihara banyak seperti dulu,” ujarnya.
Harga pakan yang sebelumnya berada di kisaran Rp 470 ribu per sak kini naik menjadi sekitar Rp 500 ribu. Kenaikan tersebut langsung menambah beban operasional peternak.
“Sekarang daya beli masyarakat sangat berkurang dibanding dulu,” tutur Wayan.
Ironisnya, saat pasokan ayam di pasaran berkurang dan harga terus merangkak naik, minat beli masyarakat justru semakin melemah. Kondisi ini membuat para peternak harus bertahan di tengah pasar yang semakin tidak menentu.
Kenaikan harga tersebut turut dirasakan Bu Jero, salah seorang pelanggan Wayan. “Biasanya dapat Rp 70 ribu per ekor, sekarang naik Rp 80 ribu per ekor,” keluhnya sambil memilih ayam yang akan dibeli.
Selain persoalan ekonomi, peternak juga harus siap menghadapi ancaman penyakit dan virus yang sewaktu-waktu dapat menyerang ternak. Namun semua itu tidak membuatnya berhenti.
Dari pengalaman menghadapi krisis moneter, pandemi, hingga kenaikan biaya produksi, Wayan justru semakin yakin bahwa kunci bertahan dalam usaha adalah ketekunan dan keberanian untuk bangkit setiap kali terjatuh.
Karena itu, ia berpesan kepada generasi muda agar tidak mudah menyerah ketika menghadapi kegagalan. “Kalau jatuh atau bangkrut, kita harus tetap berjuang membangkitkan usaha sekuat tenaga,” ujarnya.
Menurutnya, anak muda perlu berani mengembangkan keterampilan dan melihat potensi yang dimiliki sebagai modal membangun usaha sendiri. Sebab, usaha yang dijalankan dengan konsisten dapat memberikan masa depan yang tidak kalah menjanjikan.
“Usaha itu pasti ada pasang surut. Tidak selamanya lancar dan tidak selamanya jatuh,” tambahnya.
Lebih dari 35 tahun setelah pertama kali menjual ayam, Wayan Putrayasa masih berdiri tegak menghadapi berbagai gejolak ekonomi. Dari kandang sederhana miliknya, ia membuktikan bahwa kerja keras, konsistensi, dan semangat pantang menjadi kunci utama menghadapi berbagai tantangan. (Penulis: Dewa Gede Anggan Candra Wisnawa)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya
Sumber : Radar Buleleng