Berawal dari Skripsi, Luh Anggi Bangun Usaha Bibit Tanaman

Admin • Dipublikasikan Senin, 10 Agustus 2026 | 09:05 WIB
BERAWAL SKRIPSI: Luh Anggi menyerahkan bibit tanaman kepada pelanggan. Usaha penjualan bibit tanaman itu berawal dari skripsi. (Luh Anggi untuk Radar Buleleng)
BERAWAL SKRIPSI: Luh Anggi menyerahkan bibit tanaman kepada pelanggan. Usaha penjualan bibit tanaman itu berawal dari skripsi. (Luh Anggi untuk Radar Buleleng)

 

SINGARAJA, RadarBuleleng.id - Ratusan bibit tanaman berjajar rapi di dalam polybag hitam di sebuah kebun pembibitan di Desa Kerobokan, Kecamatan Sawan, Kabupaten Buleleng. Sebagian baru saja disiram. Sebagian lainnya tampak tumbuh subur menunggu waktu tanam tiba.

Di antara deretan tanaman itu, seorang perempuan sibuk memeriksa satu per satu bibit yang menjadi sumber penghidupannya selama bertahun-tahun. Perempuan itu adalah Luh Anggi, 32.

Usaha pembibitan tanaman yang kini dikelolanya berawal dari langkah sederhana lebih dari satu dekade lalu. Bahkan, usaha tersebut berkembang berkat penelitian yang ia lakukan saat masih duduk di bangku kuliah.

Di tengah banyaknya skripsi yang berakhir sebagai tumpukan dokumen di perpustakaan kampus, penelitian milik Luh Anggi justru menjelma menjadi bekal membangun usaha yang terus bertahan hingga kini.

Perjalanan itu dimulai pada 2014.

Saat itu, Anggi yang berstatus sebagai mahasiswa Jurusan Manajemen di STIE Satya Dharma Singaraja mulai mencoba merintis usaha pembibitan tanaman menggunakan tabungan hasil bekerja. Modalnya tidak besar. Pengalamannya pun masih minim. Namun ketertarikannya pada dunia usaha membuatnya berani memulai.

“Saya melihat usaha bibit tanaman memiliki peluang yang cukup baik untuk dikembangkan. Dari situlah saya mulai mencoba menjalankannya,” cerita Anggi.

Merintis usaha sambil kuliah bukan perkara mudah. Untuk membantu memenuhi kebutuhan hidup sekaligus membayar biaya pendidikan, Luh Anggi bekerja di sebuah SPBU di Buleleng.

Pagi hingga sore digunakan untuk bekerja. Sementara sore hingga malam  ia kuliah. Selain itu, ia masih harus mengurus bibit tanaman yang mulai dibudidayakan.

Rutinitas tersebut dijalani hampir setiap hari.

Saat teman-teman seusianya menikmati masa kuliah dengan lebih santai, Luh Anggi justru akrab dengan aktivitas mengantar pesanan, melayani pembeli, hingga merawat tanaman selepas bekerja.

“Saya tahu usaha anak saya karena ketika kuliah dia sering terlihat sangat sibuk. Selain mengerjakan tugas kuliah dan bekerja, dia juga harus mengantar pesanan serta melayani pembeli,” kenang sang ayah, Wayan Resmana

Kesibukan itu semakin terasa ketika memasuki masa penyusunan tugas akhir.

Alih-alih memilih topik penelitian yang jauh dari kesehariannya, Luh Anggi justru mengangkat usaha pembibitan tanaman yang sedang dirintisnya sebagai objek penelitian.

Keputusan tersebut menjadi titik penting dalam perjalanan usahanya.

Melalui penelitian itu, ia mempelajari berbagai aspek bisnis mulai dari pengelolaan usaha, strategi pemasaran, hingga peluang pengembangan pasar. Pengalaman turun langsung ke lapangan membuat pemahamannya terhadap usaha pembibitan semakin matang.

“Penelitian yang saya lakukan membuat saya semakin memahami potensi usaha bibit tanaman. Dari situ saya semakin yakin untuk terus mengembangkannya,” tutur Anggi.

Bagi Luh Anggi, skripsi bukan sekadar dokumen  untuk mendapat gelar akademis sebagai seorang sarjana. Namun baginya skripsi menjadi jembatan yang menghubungkan dunia akademik dengan dunia usaha yang sesungguhnya.

Setelah lulus kuliah, ia sempat bekerja di sebuah perusahaan asuransi. Pekerjaan tersebut memberinya penghasilan yang lebih stabil. Namun usaha bibit tanaman tidak pernah ditinggalkan.

Setiap pagi sebelum berangkat kerja, ia menyempatkan diri memeriksa kondisi bibit. Sore hingga malam hari kembali digunakan untuk merawat tanaman, melayani pelanggan, dan menyiapkan pesanan.

“Tantangan terbesar saat itu adalah membagi waktu antara pekerjaan dan usaha. Setelah bekerja, saya masih harus mengurus bibit tanaman. Selain itu saya juga masih harus banyak belajar karena pengalaman saya saat itu belum terlalu banyak,” katanya.

Berbagai kendala sempat dihadapi. Tidak semua bibit tumbuh sesuai harapan. Ada tanaman yang mengalami gangguan pertumbuhan. Ada pula jenis tanaman yang kurang diminati pasar.

Namun kegagalan-kegagalan itu justru menjadi proses belajar yang berharga.

Menurutnya, usaha pembibitan tanaman mengajarkan satu hal penting, yakni kesabaran.

Tanaman tidak bisa tumbuh secara instan. Semua membutuhkan proses, perawatan, dan ketelatenan.

Seiring waktu, usaha yang dirintis perlahan berkembang. Jenis bibit yang dipasarkan pun semakin beragam mengikuti kebutuhan pasar dan musim tanam.

Berbagai jenis bibit tanaman tersedia, mulai dari bibit cengkeh, cabai, mangga, durian, kelengkeng, bunga teratai, bunga kenanga (sandat), anggrek, serta berbagai jenis bibit tanaman lainnya yang disesuaikan dengan kebutuhan pelanggan dan musim tanam.

“Jenis bibit yang dijual menyesuaikan musim dan permintaan masyarakat. Karena itu saya berusaha menyediakan berbagai jenis tanaman agar pembeli memiliki banyak pilihan,” ujarnya.

Perkembangan usaha semakin terbantu setelah ia mulai memanfaatkan media sosial sebagai sarana pemasaran.

Sejak 2015, Facebook menjadi etalase digital bagi usaha yang dikelolanya. Foto-foto bibit tanaman rutin diunggah. Dari sana, pelanggan mulai berdatangan.

“Sekarang sebagian besar promosi dilakukan melalui Facebook. Dari sana banyak calon pembeli yang menghubungi saya untuk bertanya maupun memesan bibit,” tuturnya.

Meski demikian, usaha pembibitan tanaman tetap sangat bergantung pada musim.

Saat musim kemarau, permintaan cenderung menurun. Omzet yang diperoleh berkisar antara Rp 1 juta hingga Rp 5 juta Perbulan. Namun ketika musim hujan tiba dan aktivitas tanam meningkat, pendapatan bisa melonjak hingga puluhan juta rupiah.

“Usaha bibit tanaman memang sangat dipengaruhi musim. Kadang penjualan biasa saja, tetapi ketika musim tanam tiba permintaan bisa meningkat cukup tinggi,” jelasnya.

Di tengah persaingan dunia kerja yang semakin ketat, Luh Anggi justru menemukan ruang berkembang melalui dunia wirausaha.

Baginya, membangun usaha sendiri memberikan kepuasan yang sulit digantikan.

“Saya merasa lebih nyaman berwirausaha karena bisa terus belajar dan mengembangkan usaha sesuai kemampuan yang saya miliki,” katanya.

Ia meyakini ilmu yang diperoleh di bangku kuliah seharusnya tidak berhenti sebagai teori.

“Saya belajar bahwa ilmu yang didapat selama kuliah tidak harus berhenti sebagai teori. Jika kita mau mencoba, ilmu itu bisa menjadi peluang usaha yang nyata,” ujarnya.

Kini, setelah lebih dari sepuluh tahun menekuni usaha pembibitan tanaman, Luh Anggi masih menyimpan banyak harapan.

Ia ingin memperluas usaha, menambah jenis bibit yang dipasarkan, dan menjangkau pasar yang lebih luas.

Yang tak kalah penting, ia berharap kisahnya dapat menjadi penyemangat bagi generasi muda agar berani memanfaatkan ilmu yang dimiliki untuk menciptakan peluang usaha sendiri.

“Saya berharap usaha ini terus berkembang dan bisa menjadi inspirasi bagi anak-anak muda untuk berani berwirausaha,” harapnya.

Di balik ratusan bibit yang tumbuh subur, tersimpan kisah tentang kerja keras, keberanian, dan ketekunan. Kisah yang menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan tidak selalu berakhir di ruang kelas atau rak perpustakaan. (Penulis: Komang Artama)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

 

Editor : Eka Prasetya
Sumber : Radar Buleleng
bibit tanaman mahasiswa bibit kuliah buleleng